Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dunia Capai Rekor Suhu Tertinggi dalam Sejarah

📅 Jumat, 07 Jun 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Dunia Capai Rekor Suhu Tertinggi dalam Sejarah Doc: ISTIMEWA
Ket. Suhu rata-rata global selama periode 12 bulan hingga akhir Mei adalah 1,63 derajat Celsius di atas rata-rata suhu pra-industri

BRUSSELS - Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada Rabu (5/6), menyerukan tindakan segera untuk mencegah "iklim neraka", bersamaan dengan badan pemantauan perubahan iklim Uni Eropa yang melaporkan periode 12 bulan terakhir ini menduduki peringkat terpanas dalam sejarah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dikutip dari The Straits Times, Layanan Perubahan Iklim Copernicus melaporkan suhu rata-rata global selama periode 12 bulan hingga akhir Mei adalah 1,63 derajat Celsius di atas rata-rata pra-industri, menjadikannya periode terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1940.

Rata-rata suhu dalam 12 bulan ini tidak berarti dunia telah melampaui ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius, yang menggambarkan suhu rata-rata selama beberapa dekade, dan jika melampauinya para ilmuwan memperingatkan akan adanya dampak yang lebih ekstrem dan tidak dapat diubah.

Dalam laporan terpisah, Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organisation (WMO) mengatakan saat ini ada kemungkinan 80 persen setidaknya satu dari lima tahun ke depan akan menandai tahun kalender pertama dengan suhu rata-rata yang untuk sementara melebihi 1,5 derajat Celsius di atas suhu tingkat industri sebelumnya, naik dari peluang 66 persen pada tahun 2023.

Berbicara mengenai temuan ini, Guterres menekankan betapa cepatnya dunia menuju ke arah yang salah dan tidak mampu menstabilkan sistem iklimnya. "Pada tahun 2015, kemungkinan pelanggaran semacam itu mendekati nol," kata Guterres dalam pidatonya pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Ketika waktu untuk membalikkan keadaan semakin menipis, Guterres mendesak pengurangan 30 persen produksi dan penggunaan bahan bakar fosil global pada 2030.

Penyebab Utama

Emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil, penyebab utama perubahan iklim, mencapai rekor tertinggi pada tahun 2023 meskipun terdapat perjanjian global yang dirancang untuk membatasi pelepasan bahan bakar fosil dan adanya ekspansi pesat dalam energi terbarukan.

Sebaiknya Anda baca juga:

Batu bara, minyak, dan gas masih menyediakan lebih dari tiga perempat energi dunia, dengan permintaan minyak global yang tetap kuat.

"Data iklim terbaru menunjukkan bahwa dunia jauh dari jalur dari tujuannya untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius, target utama Perjanjian Paris tahun 2015," kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett.

"Kita harus segera berbuat lebih banyak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, atau kita akan menanggung akibat yang semakin besar dalam bentuk kerugian ekonomi senilai triliunan dollar AS, jutaan nyawa yang terkena dampak cuaca ekstrem, dan kerusakan besar terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati," tutur Barrett.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Teknologi Makin Canggih, Kenapa Hilirisasi Indonesia Masih Tersendat?
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai kendala hilirisasi; dari ...
  • Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri
    Preview komentar:
    Tantangan mendasar yang dipaparkan secara tajam dalam artikel ...
  • Pemprov Kaltara Dorong UMKM Dilibatkan dan Masuk Kawasan Industri
    Preview komentar:
    Langkah strategis Pemprov Kaltara memfasilitasi UMKM lokal untuk ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Nasional
PT KAI dan KCIC Gelar Progr...
Daerah
Pemkot Kembali Gelar Bandun...
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Lagi! Walkot Farhan: Jam Operasionalnya Pukul 08.00-16.00 WIB

Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Lagi! Walkot Farhan: Jam Operasionalnya Pukul 08.00-16.00 WIB

19 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.