Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bisnis Berkelanjutan Gairahkan Masyarakat Pulihkan Gambut dan Cegah Kebakaran

📅 Jumat, 07 Jun 2024, 13:56 WIB | Oleh: Tim Penulis

Ini bukanlah program top-down-ketika masyarakat hanya menjadi pelaksana. Mereka sejak 2021 terlibat aktif merumuskan bisnis berkelanjutan sejak tahap perencanaan hingga pemantauan.

Berdasarkan perencanaan, MPA, kelompok tani, kelompok konservasi, organisasi masyarakat adat, dan kelompok wanita tani di kedua kampung tertarik mengembangkan bisnis wanatani (pertanian campuran dengan tanaman hutan) dan wanamina (perikanan budi daya di lahan basah). Mereka mengelola lahan gambut milik desa yang awalnya berupa semak belukar, serta lahan pekarangan masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Tahap selanjutnya adalah identifikasi barang maupun jasa yang akan dikembangkan dalam model bisnis. Pemilihan barang dan/atau jasa ini mempertimbangkan permintaan pasar, kesesuaian untuk dikembangkan di lahan gambut, dan minat masyarakat.

Untuk usaha wanatani, masyarakat memilih menanam nanas, talas, dan jahe agar dapat dipanen dalam jangka pendek sehingga lebih cepat mendatangkan keuntungan. Tanaman tersebut mereka kombinasikan dengan spesies asli yang tumbuh di lahan gambut yaitu geronggang dan tanaman kayu lainnya yang ramah gambut yaitu [kopi liberika], kelengkeng, dan matoa. Selain menanam, masyarakat juga membuat kolam/embung untuk membudidayakan ikan asli rawa yakni ikan gabus.

Masyarakat kemudian menentukan mitra kunci potensial serta peran masing-masing untuk mendukung kegiatan bisnis. Umumnya, masyarakat melibatkan pemerintah daerah, mitra pembangunan, badan usaha kampung, dan perusahaan yang ada di sekitar kampung mereka.

Salah satu kontribusi, misalnya, dari perusahaan mendanai pengembangan bisnis maupun pendampingan pengolahan produk turunan bagi masyarakat. Sementara itu, badan usaha kampung berperan memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat dari kegiatan bisnis.

Masyarakat juga menentukan aktivitas kunci untuk meliputi sebelum, selama, dan sesudah proses produksi. Sebelum proses produksi, masyarakat menjalani pelatihan, menyiapkan lahan tanpa membakar, membangun pembibitan, membuat embung. Masyarakat juga bersama membuat sekat kanal dengan lebar bervariasi antara 4-7 meter untuk menjaga gambut tetap basah.

Sementara, dalam proses produksi, masyarakat menanam atau menyebar bibit ikan di kolam, merawat lahan dan kolam, kemudian memanennya. Dalam aktivitas setelah proses produksi, masyarakat perlu menentukan barang dan jasa apa yang memiliki potensi nilai tambah dan pendapatan. Misalnya, penjualan ikan, penjualan buah, atau produk olahan nanas dan jahe.

Kelompok masyarakat menentukan sumber daya kunci dan struktur biaya untuk melaksanakan setiap aktivitas tersebut. Bisnis wanatani dan wanamina membutuhkan sumber daya berupa lahan, bibit pohon dan bibit ikan, sumber daya manusia, dan lainnya.

Kebutuhan sumber daya tersebut tentu membutuhkan biaya. Masyarakat kemudian menyusun struktur biaya dan mengidentifikasi dukungan pendanaan dari mitra. Selama kegiatan berlangsung, salah satu mitra yakni Center for International Forestry Research (CIFOR), menanggung biayanya. Sementara, masyarakat menjadi pelaksana setiap kegiatan di lapangan.

Setiap kelompok juga harus menentukan siapa pelanggan yang dituju, saluran apa yang digunakan untuk menjangkau pelanggan, dan strategi dalam menjaga hubungan dengan pelanggan. Berdasarkan fasilitasi, sebagian besar kelompok menyasar masyarakat lokal sebagai konsumen utama. Mereka menggunakan media sosial dan pasar sebagai saluran untuk memasarkan produknya.

Seluruh ide mereka uraikan dalam kanvas model bisnis dalam fase perencanaan untuk diterapkan di tahap aksi. Di akhir tahapan, masyarakat bersama dengan tim peneliti melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan dan tingkat keberhasilan restorasi.

Saat ini, riset kami masih dalam tahap pemantauan oleh masyarakat. Ada juga kelompok masyarakat yang sudah memanen nanas dan menjualnya ke pasar. Target produksi masing-masing unit usaha sangat bervariasi tergantung dari komoditas yang dikembangkan, kondisi lingkungan, dan perawatan yang dilakukan oleh masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.