Bisnis Berkelanjutan Gairahkan Masyarakat Pulihkan Gambut dan Cegah Kebakaran
📅 Jumat, 07 Jun 2024, 13:56 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Lila Juniyanti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dyah Puspitaloka, Center for International Forestry Research - World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), dan Herry Purnomo, Center for International Forestry Research - World Agroforestry (CIFOR-ICRAF)
Restorasi adalah salah satu upaya untuk mengembalikan dan menjaga keberlangsungan lahan gambut yang penting bagi kestabilan iklim Bumi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) memiliki target restorasi seluas 1,04 juta ha dalam periode 2022-2024 hingga mencapai 3,44 juta ha selama 2030-2034.
Kendati begitu, restorasi tak bisa hanya mengandalkan aspek ekologi seperti penanaman dan pembasahan kembali lahan gambut yang mengering. Usaha mengungkit kesejahteraan masyarakat sekitar juga penting agar secara ekonomi dan sosial, masyarakat semakin akrab dan 'terikat' dengan kesehatan lahan gambut.
Selama hampir dua tahun, saya bersama tim peneliti dan mitra memfasilitasi pengembangan model bisnis untuk restorasi gambut oleh masyarakat adat dan masyarakat lokal. Pengembangan model bisnis merupakan salah satu proses riset aksi partisipatif yang dilaksanakan di Desa Kayu Ara Permai dan Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejauh ini, kami melihat perencanaan model bisnis berkelanjutan turut memicu minat warga untuk memulihkan lahan gambut dan mencegah kebakaran hutan.
Petani dan pelaku restorasi
Kepada kami, masyarakat di Kampung Kayu Ara Permai dan Penyengat bercerita bahwa dulu, banyak warga kampung yang menjadi nelayan dan mengambil produk hutan seperti buah-buahan, tanaman obat, dan hasil hutan bukan kayu lainnya untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, perlahan-lahan warga setempat juga mencari penghidupan dengan menjadi petani hortikultura (tanaman kebun termasuk sayur-mayur) di lahan gambut. Banyak pula hutan-hutan di sekitar kampung yang berubah menjadi perkebunan maupun penggunaan lahan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Maraknya aktivitas pertanian dan perkebunan di kampung dan area di sekitarnya ternyata berkontribusi mengeringkan lahan gambut. Gambut yang kering memicu kebakaran hutan dan lahan hampir setiap tahun. Bahkan, kebakaran terakhir terjadi pada 2020.
Lahan gambut yang relatif dalam, cuaca kemarau yang panjang, dan kebiasaan menggunakan api dalam membersihkan lahan menjadi pemicu kebakaran. Sebetulnya penggunaan api untuk membersihkan lahan sudah dilarang, tetapi cara itulah yang paling cepat, efektif, dan murah.
Kebakaran berulang membuat warga Kampung Kayu Ara Permai dan Kampung Penyengat jengah. Mereka, yang juga petani hortikultura, berusaha memperbaiki keadaan dengan terlibat aktif dalam kegiatan pencegahan kebakaran dan pelestarian lingkungan seperti Masyarakat Peduli Api (MPA) dan kelompok konservasi. Warga pun antusias memulihkan lahan gambut sembari mencari penghidupan dari kawasan tersebut.
Dari sinilah kami mencoba mendampingi warga untuk melakukan bisnis berkelanjutan sambil memulihkan gambut. Harapannya, mereka bisa mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, sembari menjaga gambut.
Hulu-hilir restorasi gambut masyarakat
Kami mendampingi masyarakat untuk mengembangkan model bisnis di lahan gambut-mulai dari identifikasi jenis usaha, pencarian mitra, hingga pemasaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!