Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Merengkuh Dunia dengan Membaca

📅 Jumat, 17 Mei 2024, 17:45 WIB | Oleh:
Merengkuh Dunia dengan Membaca Doc: ANTARA/HO-Diskominfo Batola
Ket. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Batola menggelar kegiatan Mobil Pintar, di halaman Kantor Bupati Batola, Jum'at (23/2).

JAKARTA - Buku adalah jendela duniabukanlah ungkapan berlebihan. Sebab, membaca buku merupakansumber nutrisi bagi otak yang membuat seseorang berwawasan luas hingga mampu merengkuh dunia. Pada Hari Buku Nasional, kiranya dapat menjadi momen untuk Indonesia memperbaiki peringkat literasi dunia yang hingga kini masih bertengger pada posisi 10 terendah.

Mengapa ayat Al Qur'an yang pertama kali turun berbunyi "Iqra"(Bacalah) pasti ada pesan penting di baliknya. Dan, pesan ini tetap relevan sepanjang zaman karena budaya membaca dapat mengantarkan umat berperadaban tinggi.

Cita-cita membangun Generasi Emas menuju Indonesia Maju amat terkait dengan kualitas SDM, sedangkan kualitas SDM dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang didukung tingkat literasi. Bagaimana bangsa ini hendak tinggal landas bila masyarakat belum beranjak dari predikat "malas membaca". Yang terjadi bisa jadi tertinggal di landasan.

Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia turut menjadi sorotan serius dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi X DPR RI dengan Plt. Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Aminudin Aziz.

Dalam evaluasi kinerja Perpusnas tahun 2024 itu terungkap bahwa skor literasi membaca masyarakat masih jauh dari harapan. Berdasarkan data PISA (Program for International Student Assessment) 2022, Indonesia berada pada peringkat 10 terbawah dalam kategori literasi membaca. Indonesia kini menempati peringkat 70 dari 80 negara dengan skor literasi membaca hanya sebesar 359.

Menyandang label masyarakat rendah literasi, tapi jangan salah, karena ternyata warganet Indonesia memiliki "prestasi" sebagai salah satu pengguna media sosial paling cerewet di dunia. Dalam riset sebuah lembaga independen di Paris, Semiocast, pernah menobatkan Jakarta sebagai kota paling cerewet di dunia, melebihi Tokyo dan New York. Dengan rincian, warga Jakarta bisa mengeluarkan segala kegalauan, keresahan, keluh-kesah, dan lain-lainnya sebanyak 10 juta cuitan setiap hari. Dalam riset ini, Kota Bandung menempati urutan ke-6. Jadi, dari Indonesia saja ada dua kota yang memperoleh gelar kota paling cerewet di dunia.

Sementara itu, laporan We Are Social, per Januari 2023, mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 213 juta orang atau sebesar 77 persen dari total populasi 276,4 juta orang saat itu. Rerata mereka menggunakan internet selama 7 jam 42 menit dalam sehari. Ada sekitar 98,3 persen pengguna internet Indonesia menggunakan telepon genggam setiap harinya.

Durasi tatap layar yang sedemikian panjang dengan menggunakan gawai pintar tanpa dibekali wawasan intelektual yang memadai, maka tak heran bila jadi warganet yang superberisik. Hanya berbekal sepenggal pengetahuan mampu mengeluarkan segudang komentar.

Sebaiknya Anda baca juga:

Memperbaiki literasi

Setidaknya dalam satu dekade terakhir, Pemerintah terus berjibaku memperbaiki kualitas SDM dengan menaikkan anggaran pendidikan secara signifikan, menggencarkan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) secara masif, pun membangun berbagai infrastruktur pendukungnya.

Sesuai amanat UUD 1945 dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan minimal sebesar 20 persen dari total APBN. Guna memenuhimandatoryitu, anggaran pendidikan pun membengkak 206,8 persen dari Rp216,72 triliun pada 2010 menjadi Rp665 triliun pada 2024.

Tak sampai di situ, Pemerintah selama 2 tahun 4 bulan membangun gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tertinggi di dunia dengan menghabiskan anggaran hingga Rp465.207.300.000.

Presiden Joko Widodo meresmikan bangunan setinggi 27 lantai yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, itu pada September 2017.

Perpustakaan megah tersebut memiliki beragam fasilitas, antara lain: ruang layanan keanggotaan Perpustakaan Nasional, ruang zona promosi budaya baca,data center, ruang teater, layanan anak, lansia dan disabilitas, layanan koleksi buku langka, hingga layanan multimedia. Adapun koleksi buku di Perpusnas hingga akhir 2022 sebanyak 7.774.375 eksemplar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.