Pemeringkatan Kampus Dorong Perilaku Riset Abal-abal di Indonesia, Benarkah?
📅 Minggu, 12 Mei 2024, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Markgraf
Yogie Pranowo, Universitas Multimedia Nusantara
Ketika membuka website universitas, informasi pertama yang umumnya ditunjukkan adalah soal prestasi, termasuk peringkat. Pada website Universitas Tarumanagara, contohnya, kita akan menemukan informasi yang mengatakan bahwa kampus tersebut mendapat kredit sebagai Universitas Swasta #3 di AppliedHE University Rankings: ASEAN+, Universitas Bintang 4 oleh QS Stars University Ratings, 601+ QS Asia University Rankings, dan Bintang 5 dalam Online Learning oleh QS Rating.
Website universitas yang lain juga menyuguhkan pemandangan serupa.
Website Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menyuguhi kita dengan logo universitas terakreditasi unggul, QS World University Rangking dan sebagainya. Demikian juga dengan website Universitas Negeri Jakarta yang memperlihatkan sertifikat akreditasi Unggul dari BAN-PT.
Apa yang dilakukan oleh ketiga kampus tersebut adalah contoh betapa vitalnya peran lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dalam membangun persepsi di masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara tidak langsung, lembaga-lembaga tersebut telah berperan sebagai agen pemasaran yang kuat bagi perguruan tinggi. Ketika universitas mendapatkan peringkat tinggi oleh lembaga pemeringkat ternama, hal tersebut berdampak signifikan pada persepsi dan kepercayaan masyarakat. Masyarakat menilai perguruan tinggi dengan "cap" peringkat terbaik akan memberikan keuntungan lebih banyak, termasuk jaminan karier di masa depan.
Sayangnya, pemeringkatan kampus juga menciptakan berbagai masalah, seperti penyeragaman metode penilaian yang tidak melihat keanekaragaman budaya, hingga pengukuran kualitas penelitian yang hanya melihat output. Hal ini memaksa dosen menjadi "mesin" publikasi sehingga mendorong perilaku tidak etis yang tidak mencerminkan integritas akademis.
Apa itu pemeringkatan universitas?
Sebaiknya Anda baca juga:
Lembaga pemeringkatan adalah organisasi yang bertugas mengevaluasi kinerja lembaga-lembaga pendidikan tinggi berdasarkan standar dan indikator tertentu. Tujuannya adalah menyajikan informasi obyektif mengenai kualitas serta reputasi perguruan tinggi guna mendorong peningkatan mutu, baik secara lokal maupun global.
Dalam skala internasional, beberapa lembaga pemeringkatan yang dikenal luas antara lain QS World University Rankings, Times Higher Education World University Rankings, Shanghai Ranking of World Universities, dan masih banyak lagi.
Sementara, dalam skala nasional, kita mengenal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), serta Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).
Masing-masing lembaga ini memiliki metodologi dan kriteria yang berbeda, seperti penilaian terhadap kualitas pengajaran, riset, fasilitas, reputasi internasional, dan kemampuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang umumnya diukur berdasarkan indikator jumlah.
Pro dan kontra pemeringkatan universitas
Quacquarelli Symonds (QS), salah satu firma analisis pendidikan tinggi, menyebutkan empat alasan mengapa pemeringkatan universitas penting.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!