Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perjumpaan Yunani dan India Menciptakan Evolusi Budaya di Eropa

📅 Jumat, 03 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh:

"Saat ini hanya sedikit yang diketahui orang, namun melahirkan agama, pemikiran, dan bentuk seni yang revolusioner yaitu Kekaisaran Indo-Yunani," kata Monzani, seorang koki, penulis, dan konsultan Yunani-Italia yang tinggal di Milan.

Ekspedisi Militer

Aleksander Agung, yang kala itu menjabat sebagai raja dari segala raja Persia, telah mencapai tujuan mendasar dari perjalanannya, penaklukan total Kekaisaran Achaemenid. Namun demikian, keinginan untuk mencapai titik paling terpencil di dunia yang dikenal pada saat itu itulah yang memunculkan kampanye raja Makedonia di India pada 326 SM.

Ekspedisi ini memiliki ciri yang luar biasa karena tidak lagi terdiri dari kekuatan militer yang hanya berasal dari Yunani, tetapi sebagian besar berasal dari Asia. Faktanya, selain para perwira dan komandan, sisa pasukannya terdiri dari tentara kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan bukti nyata dari fakta bahwa ini bukan lagi sebuah kerajaan Yunani di dunia tetapi sebuah kerajaan dunia.

Ekspedisi militernya sendiri berlangsung dalam waktu yang singkat dibandingkan sisa kampanyenya yang berakhir pada 325 SM karena terjadi pemberontakan pasukan. Akhirnya permintaan para jenderalnya untuk kembali disetujui, mengingat kelelahan dan bertahun-tahun yang dihabiskan dalam perang.

Perpaduan antara budaya Yunani dan India lahir berkat keinginan Aleksander Agung untuk mendobrak batas-batas dunia yang dikenal. Namun berkat diadochi-nya para jenderal dan rekan-rekannya yang lain, kerajaan Indo-Yunani terbentuk dan terus berlanjut pada abad-abad selanjut, menulis halaman sejarah yang luar biasa dan tidak banyak diketahui orang.

Diadochi adalah kata Yunani kuno yang saat ini digunakan oleh para sarjana modern untuk merujuk terutama pada orang-orang yang memainkan peran yang hanya ada untuk jangka waktu terbatas dan dalam jangkauan geografis terbatas.

Dalam laporannya Monzani pada pengaruh kuliner dan budaya, terkait dengan cara hidup dan memaknai seni keramahtamahan. Kedua dunia selama berabad-abad yang lalu telah memiliki kontak dan pertukaran, terutama di bidang ilmiah dan doktrin, seperti kemungkinan pertemuan antara Buddha dan Pythagoras, yang membawa kepercayaan metempsikosis ke Barat.

Metempsikosis adalah istilah bagi ajaran yang mengatakan bahwa jiwa manusia dapat berpindah-pindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain setelah meninggal. Perpindahan ini akan menolong jiwa mencapai kesempurnaannya.

Secara populer, istilah yang lebih terkenal adalah reinkarnasi yang merupakan salah satu pokok ajaran Buddhisme. Di dalam kekristenan, pandangan seperti ini misalnya dianut oleh Origenes, yang mana ajarannya mengenai pra-eksistensi mendekati ajaran metempsikosis.

Terlepas dari pertemuan sebelumnya, kedua kerajaan di ujung dunia yang berlawanan akhirnya bersatu berkat Aleksander. Yunani dan India membawa revolusi di bidang kuliner dan kuliner yang buahnya masih dimiliki, berakar kuat di Mediterania dan kemudian menjadi pola makan global. hay/And

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pelatihan untuk Tekan Penga...
Nasional
Dinamika Atmosfer Picu Banj...
Nasional
Pengesahan UU Pengembangan ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.