Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mendambakan Keseimbangan Kekuasaan, Masih Bisakah Berharap pada Oposisi?

📅 Jumat, 03 Mei 2024, 13:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mendambakan Keseimbangan Kekuasaan, Masih Bisakah Berharap pada Oposisi? Doc: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
Ket. Aksi bangun oposisi rakyat di Yogyakarta.

Andhik Beni Saputra, Universitas Andalas

Kompetisi menuju kursi kepresidenan telah usai. Para elite saat ini tengah sibuk bernegosiasi untuk menentukan posisinya dalam peta kekuasaan.

Partai-partai politik pendukung Presiden terpilih Prabowo Subianto tentunya akan mendominasi portofolio kabinet. Partai-partai dari koalisi lawan, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Nasdem, juga tampaknya sedang berusaha masuk ke dalam pemerintahan.

Lalu, siapa yang akan menjadi oposisi agar kekuasaan eksekutif tidak berkembang menjadi absolut?

Oposisi dan keberlangsungan demokrasi

Penguasa berhadapan dengan oposisi merupakan kondisi tak terelakkan dalam tata kelola pemerintahan. Ini karena demokrasi memang selalu memberikan ruang ketidaksepakatan.

Ketidaksepakatan lazim terjadi karena adanya perbedaan ideologi yang menyebabkan setiap aktor memiliki pendekatan berbeda dalam menyelesaikan persoalan publik.

Dalam konteks pemerintahan, oposisi selalu menjadi kritikus yang mengoreksi dan mengawasi pemerintah dalam menjalankan instrumen kekuasaan. Hal ini menjadi peringatan agar pemerintah tidak bersikap sewenang-wenang atas nama "kebaikan bersama".

Kehadiran oposisi sangat krusial agar musyawarah publik berjalan sebagaimana mestinya. Dialektika pemerintah dan oposisi bisa menjadi sarana efektif sosialisasi politik.

Masyarakat memiliki kesempatan mengidentifikasi berbagai alternatif solusi atas tantangan-tantangan negara mengapai kesejahteraan. Kesadaran warga untuk terlibat aktif dalam masalah-masalah penyelenggaraan pemerintahan juga akan semakin meningkat. Kondisi ini tentunya menjadi sinyal positif bagi penguatan demokrasi.

Klasifikasi oposisi

Para ilmuwan mengklasifikasikan oposisi ke dalam dua kategori utama, moderat dan radikal.

Oposisi moderat memilih cara-cara demokratis dalam memperjuangkan agendanya seperti perdebatan di parlemen, pengajuan petisi, demonstrasi damai, dan mobilisasi opini publik untuk menguji rancangan kebijakan. Tujuan utamanya adalah membatasi kekuasaan eksekutif.

Strategi oposisi moderat cenderung memperkuat demokrasi, karena biasanya mereka menempuh jalan yang tidak bertentangan dengan norma hukum. Penolakan perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilu menjadi contoh bahwa perlawanan secara damai dapat memperkuat kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga eksistensi demokrasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

31 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.