Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mendambakan Keseimbangan Kekuasaan, Masih Bisakah Berharap pada Oposisi?

📅 Jumat, 03 Mei 2024, 13:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Sementara itu, oposisi radikal lebih menghendaki pergantian pimpinan eksekutif. Pendekatan mereka dalam mencapai tujuan politiknya turut menentukan keberlangsungan demokrasi.

Pendekatan oposisi radikal bisa mengorbankan demokrasi karena menempuh langkah-langkah ekstrem untuk segera mengakhiri masa jabatan presiden. Misalnya berkomplot dengan militer untuk melancarkan kudeta, memboikot pemilu, dan melakukan demonstrasi yang lebih menonjolkan aksi-aksi kekerasan.

Turki dan Venezuela menjadi contoh bagaimana strategi oposisi justru berakibat pada kemunduran demokrasi. Ini tentunya menjadi ironi oposisi sebagai kekuatan penopang demokrasi.

Anomali oposisi di Indonesia

Kehadiran oposisi merupakan kondisi alami di negara demokrasi dengan sistem kepartaian terbatas, atau dua partai, dan garis ideologi yang jelas; liberal vs konservatif ataupun kiri vs kanan.

Umumnya, pihak yang kalah dalam pemilu secara otomatis menjadi oposisi. Namun, demokrasi di Indonesia belum memunculkan kohesi (keserasian) kekuatan oposisi, terutama sejak Reformasi 1998. Kehadiran oposisi cenderung tidak diinginkan oleh para elite politik. Bahkan, seringkali partai oposisi itu sendiri yang "tidak betah" menjadi oposisi dan pada akhirnya masuk ke kubu pemerintah.

Ada sejumlah alasan kondisi ini terjadi.

1. Garis ideologi yang kabur

Anomali ini kemungkinan besar disebabkan oleh tidak jelasnya garis ideologi partai politik.

Meskipun partai politik di Indonesia kerap dikelompokkan ke dalam dua ideologi arus utama-Islam dan nasionalis-sekuler-tidak ada perbedaan signifikan di antara mereka terkait preferensi kebijakan. Semuanya memiliki pandangan yang sama ketika berbicara tentang penanggulangan kemiskinan, pembangunan ekonomi, maupun keterwakilan perempuan.

Bahkan diskursus seputar Islam dan negara tidak terlalu signifikan untuk menempatkan partai nasionalis dan Islam pada posisi yang berseberangan. Partai-partai nasionalis juga banyak menginisiasi hadirnya sejumlah Peraturan Daerah (Perda) syariah yang beriringan dengan agenda partai Islam.

2. Feodalisme yang kuat

Kuatnya budaya feodalisme (sistem politik yang dikuasai oleh golongan bangsawan) juga turut mempersulit hadirnya oposisi. Penguasa menempati posisi tertinggi dalam struktur sosial masyarakat. Melontarkan kritik kepada penguasa tidak hanya dianggap salah tetapi juga termasuk dalam tindakan perlawanan. Tak ayal, masih banyak elite politik kita yang kurang siap menerima kritik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Ilmuwan Ungkap Gletser Swis...
Nasional
BMKG Prediksi Musim Hujan 2...
Advertisement
Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.