4 Cara Agar Sektor Migas Indonesia Lebih Berperan Pangkas Emisi
📅 Senin, 29 Apr 2024, 13:00 WIB | Oleh: Tim PenulisHidrogen dalam peta jalan energi bebas emisi versi IEA menjadi sorotan utama dalam upaya global menuju energi bersih dan berkelanjutan. Sebab, hidrogen dapat menghasilkan lebih banyak energi tanpa emisi karbon. Selain tidak adanya emisi langsung CO2, hidrogen juga menjadi bahan bakar untuk transportasi, pembangkit listrik, dan sarana penyimpan energi dengan densitas yang tinggi.
Di Indonesia, PT PLN sedang menggarap proyek hidrogen hijau yang dibuat dari proses elektrolisis atau menyetrum air dengan energi terbarukan.
Industri migas memang tidak bisa membuat hidrogen hijau. Namun, sumber daya migas masih bisa dimanfaatkan untuk membuat hidrogen biru. Hidrogen jenis ini diproduksi dengan energi gas alam yang dilengkapi teknologi CCS/CCUS. Dua raksasa migas yaitu Chevron dari Amerika Serikat dan ADNOC dari Uni Emirat Arab sudah memulai proyek hidrogen biru.
Meskipun konsumsi hidrogen di Indonesia pada 2023 mencapai 1,75 juta ton per tahun, penggunaannya masih terbatas pada sektor industri pupuk, amonia, dan kilang minyak. Pada 2060, kebutuhan hidrogen tahunan Indonesia dapat meningkat hingga 18 kali lipat, dengan penggunaan energi terbarukan sebagai bahan bakunya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produksi hidrogen juga memerlukan biaya produksi yang tinggi, memakan biaya sekitar US$4-7 per kg. Proses pengangkutan hidrogen dari fasilitas produksi ke konsumen akhir juga menjadi tantangan tersendiri.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan hidrogen dan energi terbarukan. Namun, kebijakan insentif agar hidrogen lebih digunakan secara massal untuk beragam sektor juga perlu disediakan.
3. Memproduksi panas bumi
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, pemanfaatan energi panas bumi atau geotermal mungkin dapat menjadi opsi paling menarik untuk transisi ramah lingkungan industri migas. Sebagai negara yang berada di daerah cincin api, Indonesia memiliki cadangan energi geotermal terbesar di dunia.
Pemanfaatan energi geotermal dapat dilakukan dengan cara mengonversi energi panas yang diekstrak melalui sumur-sumur geotermal menjadi energi listrik. Perusahaan migas seperti Pertamina dan Medco Energy pun memanfaatkan energi geotermal.
Untuk berpindah lini usaha ke panas bumi, industri migas dapat beradaptasi lebih cepat. Sebab, industri migas dan panas bumi memiliki kemiripan teknologi dan faktor resiko. Keduanya memiliki metode pencarian dan eksploitasi sumber daya yang serupa, karena sama-sama mengandalkan pengetahuan geologi bawah tanah.
Selain di wilayah kerja panas bumi, kontraktor migas juga dapat melakukan studi kelayakan pemanfaatan kembali sumur-sumur migas tua atau tidak produktif menjadi sumur geotermal. Pemanfaatan sumur-sumur bekas migas ini dapat meredam biaya terutama untuk proses pengeboran.
Studi dapat mempelajari kelayakan lokasi hingga profil temperatur sumur agar menghasilkan energi yang diinginkan. Saat ini, Departemen Energi Amerika Serikat sedang melakukan studi senada melalui proyek Wells of Opportunity.
Selain itu, energi geotermal pun berpotensi untuk memproduksi hidrogen hijau. Di Indonesia, studi kelayakan sudah dipelopori oleh PT Pertamina Power Indonesia-anak usaha Pertamina-bersama Tokyo Electric Power Company (TEPCO) dan Yamanashi Hydrogen Company (YHC). Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan surplus listrik dan panas buangan dari pembangkit energi geotermal untuk memproduksi hidrogen secara efisien.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!