4 Cara Agar Sektor Migas Indonesia Lebih Berperan Pangkas Emisi
📅 Senin, 29 Apr 2024, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis4. Integrasi teknologi
Dengan segala sumber daya yang dimiliki, industri migas dapat melakukan berbagai terobosan dengan mengintegrasikan teknologi baru dan terbarukan untuk berperan dalam transisi ke kondisi bebas emisi.
Misalnya, selain kombinasi dengan energi hidrogen, penangkapan karbon dapat diselaraskan dengan energi geotermal untuk menghasilkan listrik melalui teknologi CO2-plume geothermal (CPG). Teknologi ini menginjeksikan CO2 yang ditangkap ke dalam reservoir bawah tanah. CO2 kemudian dipanaskan oleh energi geotermal untuk menghasilkan listrik. Proses injeksi dan ekstraksi CO2 berlangsung di dalam tanah secara tertutup (closed-loop) sehingga nantinya karbon akan disimpan secara permanen di reservoir.
Saat ini, pengembangan teknologi CPG dipimpin oleh kampus ETH Zurich bersama dengan beberapa lembaga lainnya dan pilot project akan segera dibangun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Integrasi antara energi baru dan terbarukan ini tidak hanya mendukung pencapaian target emisi nol karbon, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Migas di masa depan
Seiring dengan peningkatan kesadaran akan dampak lingkungan, inovasi teknologi terbarukan, dan target emisi nol bersih pada 2060, pelaku industri migas harus beradaptasi menyongsong transisi energi di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan memperhatikan empat aspek tersebut, pelaku industri migas dapat melakukan transisi ke arah energi terbarukan dengan tetap memanfaatkan keterampilan dan teknologi yang sudah dimiliki. Harapannya, peralihan dari aktivitas migas ke berbagai kegiatan ramah lingkungan dapat berjalan lancar sambil tetap mempertahankan kemajuan ekonomi.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dapat memenuhi komitmen internasionalnya dalam mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan ketahanan dan keberagaman sumber energinya.![]()
Putra Hanif Agson Gani, PhD Student, Minerals and Energy Resources Engineering, UNSW Sydney dan Dea Vallerie Oemaiya, PhD Student, King Abdullah University of Science and Technology
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!