Panas akibat Perubahan Iklim Mendorong Penyu Malaysia Menuju Kepunahan
📅 Jumat, 26 Apr 2024, 07:20 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S"Kami memperkirakan jika penyu jantan masih belum bisa menetas, mungkin dalam waktu sekitar 10 hingga 15 tahun, penyu bisa bertelur tapi tidak menetas," ujarnya.
Malaysia adalah rumah bagi empat spesies penyu, dan pantai-pantai di negara ini pernah dikunjungi oleh ribuan reptil laut setiap tahunnya, terutama di Terengganu.
Jumlah mereka telah menyusut selama beberapa dekade terutama karena aktivitas manusia, mulai dari penangkapan ikan hingga polusi dan hilangnya habitat serta pencurian telur mereka untuk dimakan.
Ketika jumlah penyu menurun, para aktivis lingkungan berupaya membantu memulihkan populasi penyu di Malaysia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada tahun 1993, pantai Chagar Hutang yang terpencil sepanjang 350 meter dipilih oleh pihak berwenang sebagai lokasi konservasi untuk dikelola oleh UMT, dan program sukarelawan dibentuk beberapa tahun kemudian.
Sejak saat itu, universitas ini telah mencatat kedatangan penyu dan relokasi sarang dari predator, biawak tidak menyukai telurnya, serta ancaman manusia.
Upaya mereka membuahkan hasil. Dari beberapa ratus sarang setiap tahun pada tahun 1990-an, terdapat rekor 2.180 sarang pada tahun 2022.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun keberhasilan mereka dibayangi oleh pemanasan global dan faktor-faktor buatan manusia lainnya.
Mmenurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, rekor suhu permukaan laut harian sebesar 21,07 Celcius tercatat pada bulan Maret.
Bulan lalu juga merupakan bulan Maret terpanas dalam 175 tahun data iklim, kata NOAA, memperingatkan bahwa ada kemungkinan 99 persen bahwa tahun 2024 akan menjadi salah satu dari lima tahun terpanas yang pernah tercatat.
Laut menutupi 70 persen bumi dan menyerap 90 persen panas berlebih yang dihasilkan dari emisi karbon dioksida dan metana yang dihasilkan oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.
Plastik
Plastik menambah masalah ini. Sampah yang terapung di lautan yang tidak dikelola dengan baik pada akhirnya akan terdampar di pantai, menyerap lebih banyak panas dan melepaskannya ke pasir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!