Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Biarkan Petani Menikmati Harga Gabah yang Bagus

📅 Kamis, 14 Mar 2024, 00:03 WIB | Oleh:
Biarkan Petani Menikmati Harga Gabah yang Bagus Doc: ANTARA/DEDHEZ ANGGARA

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) akan menjaga agar harga gabah kering panen atau GKP di tingkat petani saat musim panen tidak terlalu jatuh sehingga petani sebagai produsen tidak merugi, tetapi harga di tingkat konsumen pun tetap terjangkau.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, di Jakarta, Rabu (13/3), mengatakan bahwa dengan kondisi saat ini, maka bagi pemerintah sebenarnya merupakan pilihan.

"Kalau harga GKP 8.000 rupiah per kilogram (kg), maka petani senang, tetapi harga beras di konsumen mencapai 16 ribu rupiah per kg. Namun, sekarang ketika panennya banyak maka harga GKP harus dijaga dan secara otomatis harga di hilir terkoreksi," kata Arief.

Bapanas sendiri sudah memberlakukan sementara relaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium diimplementasikan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen selama Ramadan 1445 Hijriah.

"Relaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang diberlakukan sementara mulai 10 Maret sampai 23 Maret, beras di pasar modern dan tradisional sudah muncul. Jadi, salah satu fungsi relaksasi itu sebenarnya yang kemarin perolehan harga gabahnya di atas 8.000-9.000 rupiah per kg bisa mengeluarkan berasnya," kata Arief.

Hal itu karena beberapa waktu lalu harga gabah kering panen (GKP) di atas 8.000 rupiah per kg, sehingga ada yang harga perolehannya memang sudah tinggi.

"Kemudian dikasih relaksasi selama dua pekan untuk last order sekitar 1,2-1,3 juta ton beras sudah benar, dan nantinya akan kembali lagi ke HET," kata Arief.

Relaksasi tersebut dilakukan bersama-sama dan diharapkan seiring berjalannya waktu di mana Maret-April panen padinya mulai banyak, maka harga diharapkan mulai terkoreksi. "Kalau kemarin harga beras tinggi karena masih sisa dari panen yang harga GKP di atas 8.000 rupiah per kg," katanya.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Rabu (13/3), Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan telah menyiapkan anggaran 7,74 triliun rupiah dari pagu APBN tahun 2024 guna meningkatkan hasil produksi tanaman padi dan jagung sehingga bisa mewujudkan swasembada pangan bagi Indonesia.

"Agar target 32 ton beras tercapai Kementerian Pertanian melakukan refocusing anggaran sebesar 7,74 triliun rupiah untuk mendukung akselerasi peningkatan produksi padi dan jagung," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Dalam kesempatan itu, Mentan juga memastikan penambahan pupuk subsidi dari yang sebelumnya 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, termasuk dari hasil rapat terbatas DPR maupun dari Kementerian Keuangan.

Selain pupuk, Mentan juga memastikan pemerintah juga sudah menyetujui anggaran belanja tambahan (ABT) sebesar 5,8 triliun rupiah untuk mengantisipasi dampak El Nino melalui program solusi cepat seperti pompanisasi dan perbenihan.

Utamakan Petani

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan pemerintah harus mengutamakan kepentingan petani di atas kepentingan yang lain.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.