Terbongkar, Struktur Transaksi Berjalan yang Rapuh Penyebab Rupiah Terpuruk
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatat defisit 12,5 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan posisi triwulan I-2026 yang tercatat defisit 3,6 miliar dollar AS atau 1,0 persen dari PDB.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko di Jakarta, Rabu (30/9) mengatakan defisit transaksi berjalan yang jebol hingga 12,5 miliar dollar AS adalah alarm keras bagi ekonomi nasional. Struktur transaksi berjalan yang ternyata selama ini rapuh akhirnya terbongkar oleh gejolak eksternal.
“Komponen utamanya itu jelas, perdagangan barang, jasa, pendapatan primer dari investasi dan upah tenaga kerja asing, serta hibah. Kalau semua komponen itu defisit, artinya kita kebobolan di semua lini,” tegas Suhartoko.
Dia pun membongkar membongkar biang kerok defisit yang makin dalam dari 1,0 persen menjadi 3,3 persen PDB karena kebergantungan akut pada impor migas di tengah harga minyak yang melambung, sementara surplus non-migas justru mengempis.
“Jangan mimpi solusi instan. Ini bukan salah BI saja. Ini akibat shocks eksternal yang menghantam ekonomi kita yang masih sangat bergantung pada migas dan pasar ekspor yang itu-itu saja. Selama kita masih adiktif impor migas, rupiah akan terus jadi korban,” ujarnya dengan nada keras.
Suhartoko mendesak pemerintah berhenti dengan solusi tambal sulam dan segera beralih ke strategi jangka menengah yang radikal.
“Stop ketergantungan migas! Pemerintah harus serius, bukan lips service, menyiapkan bahan bakar non-fosil. Dan ekspor non-migas harus didongkrak habis-habisan, bukan hanya volumenya, tapi jenis barang dan tujuan negaranya harus didiversifikasi. Jangan cuma jual ke negara yang itu-itu saja,” katanya.
Ia pun melempar kritik pedas soal euforia investasi asing. “Investasi asing memang penting, tapi ingat konsekuensinya! Laba mereka akan dikirim ke luar negeri dan itu akan menggerogoti neraca pendapatan primer kita dalam jangka panjang. Sudah saatnya kita pikirkan kemandirian keuangan lewat Penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing. Kalau tidak, kita hanya menggali lubang defisit yang lebih dalam,” pungkas Suhartoko.
Jangan Andalkan Modal Asing
Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi 3,3 persen terhadap PDB menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi ketahanan sektor eksternal.
Pemerintah perlu melihat apakah pelebaran tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan devisa yang tidak mampu diimbangi penerimaan devisa secara memadai.
“Lonjakan dari 1 persen menjadi 3,3 persen PDB dalam satu triwulan tentu bukan perubahan kecil. Pemerintah perlu menjelaskan apakah ini hanya faktor temporer atau mulai menunjukkan persoalan yang lebih struktural dalam perekonomian kita,” kata Achmad.
Pelebaran transaksi berjalan menjadi semakin penting, karena bersamaan dengan Indonesia harus menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Semakin besar kebutuhan pembiayaan eksternal, semakin besar pula sensitivitas perekonomian terhadap perubahan arus modal.
Pemerintah katanya tidak cukup hanya mengandalkan masuknya modal asing untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Terlebih apabila sumber pembiayaan didominasi investasi portofolio yang relatif mudah keluar ketika persepsi risiko global berubah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!