Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemuda yang Kabur ke Thailand Kian Bertambah

8 Selasa, 12 Mar 2024, 02:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemuda yang Kabur ke Thailand Kian Bertambah Pemuda yang Kabur ke Thailand Kian Bertambah Doc: AFP
Ket. Hindari WamilIzin l Sejumlah pemuda Myanmar antre di luar kantor Kedubes Thailand di Yangon pada pertengahan Februari lalu. Para pemuda ini ingin menghindari wajib militer dan memilih untuk kabur ke Thailand.

YANGON - Kantor beritaNHKpada Minggu (10/3) melaporkan bahwa makin banyak anak muda di Myanmar yang pergi ke negara tetangga Thailand untuk menghindari wajib militer yang diumumkan oleh junta militer negara itu sebulan lalu.

Pengumuman wajib militer pada tanggal 10 Februari tersebut mendorong warga negara yang harus mengikutinya mencoba melarikan diri dari Myanmar. Banyak yang mendatangi misi negara asing, termasuk kedutaan Thailand di Yangon, untuk mendapatkan visa jangka panjang.

Dua orang tewas bulan lalu ketika terjebak di tengah kerumunan yang sedang antre di kantor paspor di kota terbesar kedua di Myanmar, Mandalay.

"Sebuah universitas di Kota Chiang Mai, Thailand utara, mendapat 2.100 pendaftar untuk mengikuti ujian masuk dalam bulan ini bagi 100 kursi di departemen bahasa Inggris. Sebagian besar pelamar berasal dari Myanmar," laporNHK.

Seorang pendaftar berusia 32 tahun dari Yangon mengatakan saudara kembarnya dan semua temannya berpihak pada kubu prodemokrasi. Ia mengatakan dirinya tidak memiliki niat untuk bergabung dengan militer untuk menembak orang-orang tersebut.

Seorang pejabat universitas itu mengatakan bahwa universitasnya belum pernah menerima pendaftaran sebanyak ini. Pejabat itu juga mengatakan universitasnya akan memberikan dukungan sebanyak mungkin kepada mahasiswa dari Myanmar.

Junta Myanmar mengatakan bulan lalu bahwa pria berusia 18 hingga 35 tahun serta perempuan berusia 18 hingga 27 tahun harus mengikuti wajib militer hingga dua tahun. Durasi wajib militer dapat diperpanjang hingga lima tahun selama keadaan darurat.

Junta itu mengatakan akan memanggil gelombang pertama sebanyak 5.000 orang pada bulan April. Namun, belakangan diumumkan bahwa pihaknya tidak berencana memasukkan perempuan ke dalam kelompok wajib militer. Hal ini merupakan langkah yang tampak untuk meredam kekhawatiran di kalangan generasi muda.

Militer Myanmar merebut kekuasaan melalui kudeta pada Februari 2021, dan sejak saat itu berperang melawan kubu prodemokrasi serta milisi etnis minoritas.

Pihak militer menghadapi bertambahnya tentara yang tewas atau menyerah setelah aliansi militan etnis melancarkan serangan terkoordinasi pada akhir Oktober di Negara Bagian Shan, Myanmar timur.

Rencana wajib militer tersebut diyakini sebagai upaya guna mengganti prajurit-prajurit yang tewas. NHK/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Mengejutkan! Moldova Disebu...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.