UNICEF: 230 Juta Perempuan di Seluruh Dunia Jadi Korban Mutilasi Genital
📅 Jumat, 08 Mar 2024, 08:33 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: UNICEF/Dejongh
PBB - Jumlah perempuan yang selamat dari mutilasi alat kelamin mencapai 230 juta di seluruh dunia, kata UNICEF dalam laporan terbaru pada Kamis (7/3), meningkat 15 persen sejak 2016 meskipun ada kemajuan dalam upaya melawan praktik tersebut di beberapa negara.
"Ini benar-benar berita buruk. Ini adalah angka yang sangat besar, angka yang lebih besar dari sebelumnya," kata Claudia Coppa, penulis utama laporan yang dirilis bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.
Mutilasi alat kelamin perempuan, yang dikenal sebagai FGM atau di Indonesia disebut sunat perempuan, mencakup pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris serta labia minora, dan penjahitan lubang vagina untuk mempersempitnya.
FGM, yang dapat menyebabkan pendarahan atau infeksi yang fatal, juga dapat menimbulkan akibat jangka panjang seperti masalah kesuburan, komplikasi persalinan, lahir mati, dan nyeri saat berhubungan seksual.
Afrika merupakan negara dengan jumlah penyintas FGM terbanyak, yakni lebih dari 144 juta jiwa, melampaui Asia (80 juta jiwa) dan Timur Tengah (enam juta jiwa), menurut survei terhadap 31 negara yang banyak melakukan praktik tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan total ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan populasi di negara-negara tertentu, namun laporan tersebut menyoroti kemajuan dalam mengurangi prevalensi penyakit ini di negara-negara lain.
Di Sierra Leone, persentase anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun yang mengalami mutilasi alat kelamin telah menurun dalam 30 tahun dari 95 persen menjadi 61 persen.
Ethiopia, Burkina Faso, dan Kenya juga mencatat penurunan tajam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun di Somalia, 99 persen perempuan berusia antara 15 dan 49 tahun pernah mengalami mutilasi alat kelamin, serta 95 persen di Guinea, 90 persen di Djibouti, dan 89 persen di Mali.
"Kami juga melihat tren yang mengkhawatirkan bahwa semakin banyak anak perempuan yang menjadi sasaran praktik ini pada usia yang lebih muda, banyak di antaranya sebelum ulang tahun kelima mereka," kata ketua UNICEF Catherine Russell dalam sebuah pernyataan.
"Hal ini semakin mengurangi peluang untuk melakukan intervensi. Kita perlu memperkuat upaya untuk mengakhiri praktik berbahaya ini."
Ingat Rasa Sakitnya'
Kemajuan perlu ditingkatkan hingga 27 kali lipat dari tingkat yang ada saat ini untuk memberantas praktik tersebut pada 2030, sebagaimana diserukan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB.
Meski persepsinya terus berubah, FGM "telah ada selama berabad-abad. Jadi, mengubah norma dan praktik sosial yang terkait dengan norma ini membutuhkan waktu," kata Coppa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!