Riset Paparkan 3 Prediksi terkait Hoaks di Pemilu 2024
📅 Sabtu, 30 Des 2023, 10:55 WIB | Oleh: Tim PenulisKekuatan hoaks, salah satunya, terletak pada perpaduan teks dan visual.
Penelitian Mafindo pada tahun 2022 mengungkap bahwa konten berupa kombinasi antara teks dengan gambar atau video mendominasi komposisi temuan dengan persentase hingga 79,2%.
Salah satu hoaks yang cukup ikonik setelah masa pemungutan suara pada Pemilu 2019, misalnya, adalah gambar "Prof. Tokuda tersenyum memperlihatkan data kecurangan KPU" (22 Juni 2019) yang dibagikan lebih dari 8.300 kali di Facebook.
Dinarasikan dalam hoaks tersebut bahwa "Prof. Tokuda adalah ahli demokrasi di Jepang, sejak kecil ia merasa bersalah karena kakek neneknya dulu menjajah Indonesia".
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil cek fakta menunjukkan bahwa gambar tersebut merupakan aktor video porno dari Jepang, Shigeo Tokuda. Hoaks ini termasuk dalam kategori manipulated content (jenis hoaks yang secara konten sudah ada, namun dimanipulasi) yang bersifat parodi.
Selain itu, hoaks sering menggunakan bukti-bukti palsu untuk meyakinkan audiens. Penelitian kami menunjukkan bahwa gambar atau video adalah jenis bukti yang paling banyak digunakan yaitu sebesar 67% untuk memperkuat klaim hoaks.
Dengan adanya perkembangan teknologi, gambar dan video dapat dibuat lebih menarik sekaligus lebih manipulatif sehingga membuat deteksi hoaks menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Hal ini sesuai temuan sebuah penelitian tentang psikologi dan media di Inggris tahun 2022 yang menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, seperti kecerdasan buatan, telah mengaburkan batas antara citra visual yang nyata dan palsu sehingga asli dan rekaan semakin susah untuk dibedakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini tentunya memerlukan cara-cara baru yang lebih efektif untuk melawan hoaks.
Selain meningkatkan kerja sama antara lembaga pengecek fakta, koalisi masyarakat sipil dan pemerintah, diperlukan juga inisiasi kerja kolaboratif yang menggabungkan pengamatan fact checker dan kecerdasan buatan dalam melakukan identifikasi awal hoaks.![]()
Finsensius Yuli Purnama, Adjunct assistant professor, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya; Fitri Murfianti, , Leiden University; Loina L. K. Perangin-angin, , Swiss German University, dan Nuril Hidayah, , STAI MIFTAHUL ' ULA NGANJUK
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!