Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Politisasi Isu Pengungsi Rohingya Jelang Pemilu, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui

📅 Jumat, 22 Des 2023, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

5. Politik identitas dan stereotip rasial

Permasalahan ini juga diwarnai dengan munculnya narasi-narasi kebencian terhadap pengungsi Rohingya berupa penyebaran berita hoaks melalui akun-akun palsu yang mencakup stereotip rasial.

Stereotip rasial contohnya tudingan bahwa pengungsi Rohingya tidak menghargai pemberian warga lokal, suka membuat keributan dengan masyarakat setempat, dan bahwa mereka sengaja membayar sindikat perdagangan orang untuk mengirim mereka ke Indonesia agar mendapat lahan gratis dari pemerintah Indonesia.

Ujaran kebencian dan stereotip rasial kepada pengungsi Rohingya, pada gilirannya dapat menumbuhkan strategic narrative atau narasi antimigran yang digaungkan oleh kelompok ekstrem kanan. Narasi ini menekankan bahwa migran, dalam hal ini termasuk pengungsi, adalah ancaman terhadap identitas nasional.

Berdasarkan great replacement theory, adanya supremasi rasial akan memperkuat sentimen anti-migran yang memandang bahwa para pendatang akan menyingkirkan penduduk "pribumi" dari tanah air mereka.

Narasi semacam ini berkembang di dunia maya di Indonesia, Filipina, dan Malaysia yang mendorong supremasi Austronesia sebagai penduduk asli dari tiga negara ini. Oleh karenanya, etnis lain, termasuk Arab, India, Cina, dan Rohingya, dianggap sebagai liyan dan menjadi ancaman bagi keberadaan penduduk asli.

Pada akhirnya, selama kondisi Cox's Bazar masih memprihatinkan dan sindikat tindak pidana perdagangan orang masih merajalela, maka gelombang pengungsi Rohingya kemungkinan besar akan terus berdatangan ke Indonesia.

Tanpa pengelolaan yang baik, permasalahan Rohingya berpotensi mempertajam supremasi rasial bagi mereka yang merasa berhak mendapat fasilitas lebih dari pemerintah, ketimbang pengungsi Rohingya yang dianggap bukan penduduk asli Indonesia.

Hal yang paling penting sekarang adalah semua pihak perlu menghindarkan diri dari politisasi isu humanitarian ini di tengah kuatnya polarisasi politik identitas menjelang Pemilu 2024.The Conversation

Nuri W Veronika, PhD Candidate, at Gender, Peace and Security Center, Faculty of Arts, Monash University, Monash University dan Anak Agung Istri Diah Tricesaria, PhD Candidate, Herb Feith Scholar of Monash Herb Feith Engagement Centre, Faculty of Arts, Monash University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.