Perguruan Tinggi Harus Terlibat Pencegahan Depresi
📅 Selasa, 31 Okt 2023, 19:02 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Muhamad Ma'rup
BOGOR - Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam, mengatakan, perguruan tinggi harus mampu mencegah depresi yang dapat memicu depresi. Seluruh civitas academica harus terlibat untuk menciptakan kampus yang sehat, aman, dan nyaman.
"Itu (depresi) harusnya tidak terjadi ketika kita saling peduli, kita saling asah, asih, dan asuh," ujar Nizam dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RSJ dr H Marzoeki Mahdi (PKJN RSJMM) Bogor bersama Cempaka Study Club yang didukung Meeting.ai, di Jakarta, Selasa (31/10).
Dia menjelaskan, pihaknya terus mendorong terciptanya kampus yang sehat secara holistik. Selain kesehatan fisik, kesehatan intelektual sebagai akademisi harus terfasilitasi dengan adanya diskursus secara kritis, analitis, bernas, tapi juga dikemas ke dalam solusi-solusi yang baik dan disampaikan secara santun.
Nizam menambahkan, kesehatan yang tak kalah penting menurut adalah sehat emosional atau sehat psikologis. Menurutnya, sampai saat ini kesehatan jiwa dan psikologis kerap dipandang hanya menjadi urusan psikolog serta pengampu bimbingan dan konselin.
"Menurut saya itu adalah kebutuhan kita semua dan bisa kita lakukan bersama-sama. Melalui kampus yang care, kampus yang caring, saling peduli," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menerangkan, kesehatan psikologis harus dibangun tidak dengan satu program tersendiri. Untuk tataran kampus, unit yang mengurusi kesehatan psikologis dan emosional memang diperlukan, tapi itu menjadi bagian dari pembelajaran secara bersama-sama.
"Menjadi sikap dan perilaku kita. Jadi bagian dari budaya kita. Saling peduli, saling asah, saling asih, saling asuh. Kakak dan adik. Orang tua dan anak. Suasana itu harus kita bangun di lingkungan kampus kita," tandasnya.
Butuh Peningkatan
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Utama PKJN RSJMM Nova Riyanti Yusuf menerangkan, Indonesia masih memiliki tantangan dalam pengembangan program kesehatan jiwa, seperti regulasi yang masih ambigu, kekurangan data, dan keterbatasan anggaran. Dia menyebut, terjadi tren peningkatan perilaku self harm atau menyakiti diri sendiri.
"Tahun 2000 6,5 persen. Tahun 2019 meningkat menjadi 8,1 persen. Jadi ada peningkatan untuk gangguan mental, neurologis, penyalahgunaan zat, dan self harm. Self harm berarti menyakiti diri sendiri," terangnya.
Dia memastikan, pihaknya bertanggung jawab sebagai koordinator nasional untuk pengampuan dan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Menurutnya, pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan salah satu tujuan utama saat ini.
"Pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan salah satu tujuan utama saat ini," terangnya. (ruf)
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!