Gelombang Unjuk Rasa Menentang Bahan Bakar Fosil Melanda Dunia
📅 Sabtu, 16 Sep 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ODD ANDERSEN/AFP
» Langkah nyata menghentikan penggunaan energi fosil memang harus secepatnya dilakukan.
» Energi terbarukan lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil dalam hal biaya pengoperasiannya.
BRUSSELS - Para pengunjuk rasa perubahan iklim di lebih dari 50 negara mulai Jumat (15/9) hingga Minggu (17/9) turun ke jalan menggelar demonstrasi pada akhir pekan yang menuntut dunia menghentikan pembakaran bahan bakar fosil yang memanaskan bumi.
Seperti dikutip dari The Straits Times, dalam satu tahun, banyak kematian dan kehancuran ekonomi akibat banjir, kebakaran hutan, serta kekeringan yang memecahkan rekor. Para pengunjuk rasa pun telah merencanakan lebih dari 500 pertemuan di 54 negara, dari Pakistan dan Nigeria hingga Amerika Serikat (AS).
Di New York, puluhan aktivis melakukan protes di luar kantor pusat manajer aset BlackRock dan Citibank masing-masing pada Rabu dan Kamis, menentang investasi perusahaan tersebut pada bahan bakar fosil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Diperkirakan pengunjuk rasa global pada akhir pekan ini akan mencapai lebih dari satu juta orang. Hal ini dapat menjadikan aksi tersebut sebagai protes iklim internasional terbesar sejak sebelum pandemi Covid-19, ketika gerakan "mogok sekolah" yang dipimpin oleh aktivis Swedia, Greta Thunberg, menyebabkan jutaan orang di seluruh dunia ikut serta dalam unjuk rasa.
"Ini ditujukan kepada para pemimpin dunia," kata Mitzi Jonelle Tan, aktivis iklim dari gerakan pemuda Fridays for Future, di Manila, Filipina.
"Waktu industri bahan bakar fosil sudah habis. Kita memerlukan transisi yang adil, dan kita perlu menghentikan penggunaan bahan bakar fosil yang menyebabkan kerusakan lingkungan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Akhiri Subsidi Migas
Penyelenggara mengatakan mereka akan meminta negara-negara agar segera mengakhiri subsidi minyak dan gas (migas) dan membatalkan rencana perluasan produksi.
Menurut analisis International Monetary Fund (IMF), pemerintah menghabiskan dana subsidi minyak, gas, dan batu bara sebesar tujuh triliun dollar AS pada tahun lalu.
"Kami turun ke jalan menuntut para pemimpin Afrika untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil dan fokus pada investasi pada energi terbarukan yang dipimpin oleh masyarakat, untuk memenuhi permintaan energi bagi 600 juta orang Afrika yang tidak memiliki akses terhadap listrik," kata Eric Njuguna, aktivis iklim yang berbasis di Nairobi, Kenya.
Demonstrasi tersebut terjadi dua bulan sebelum KTT Iklim COP28 PBB tahun ini, di mana lebih dari 80 negara berencana untuk mendorong perjanjian global untuk secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara, minyak, dan gas.
Pembakaran bahan bakar fosil adalah penyebab utama perubahan iklim, namun banyak negara yang tidak pernah sepakat dalam perundingan iklim PBB untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, meskipun mereka telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan tenaga batu bara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!