Kenali Kekayaan Alam Hutan Hujan Tropis di Ekowisata Bodogol
📅 Sabtu, 09 Sep 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Hutan tropis merupakan kekayaan sangat berharga yang perlu terus dilindungi dari kerusakan. Di ekowisata Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, masyarakat dapat mengenal lebih dekat tentang kekayaan alam dari hutan hujan tropis.
Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terdapat Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB). Sejak 12 Desember 1998, tempat yang berada di lereng barat Gunung Gede Pangrango ini terbuka bagi umum sebagai objek ekowisata untuk tujuan edukasi tentang kekayaan alam dari hutan hujan tropis di Indonesia.
PPKAB beralamat beralamat Desa Wates Jaya, Jalan Raya Bogor-Sukabumi KM 18 Cisempur, Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Berada di kawasan hutan, TNGGP jaraknya dari pintu gerbang dengan jalan raya mencapai 7 kilometer. Sedangkan jarak dengan desa terdekat sejauh 3 kilometer.
Kawasan ekowisata ini dikelola oleh Badan Pengelola Harian (BPH) dan merupakan unit manajemen yang terdiri dari komponen TNGGP, masyarakat, dan para relawan. Tempat ini didirikan oleh tiga lembaga yakni Conversation International Indonesia (CII), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Yayasan Alam Mitra Indonesia (ALAMI).
Berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl), menjadikan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol memiliki tujuan untuk memberi peran bagi keragaman hayati di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selain itu juga memberi edukasi mengenai alam di Indonesia secara umum dan mengenai hutan tropis beserta satwa di dalamnya secara khusus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tempat ini menjalankan fungsi pendidikan, penelitian dan pariwisata dari TNGGP. Ada tiga program yang ditawarkan ke wisatawan yaitu pendidikan, penelitian, dan ekowisata. Untuk itu, didirikan beberapa fasilitas berupa pintu gerbang, stasiun penelitian biologi, pusat informasi, dan asrama.
Bagi wisatawan tersedia tiga asrama dengan kapasitas masing-masing sebanyak 20 tempat tidur. Di sini terdapat gardu pandang berukuran segi empat. Dari atas gardu pandang ini bisa melihat hutan hutan tropis yang sangat rapat di sekitarnya.
Fasilitas yang lainnya adalah jembatan kanopi dengan panjang 243 meter dengan ketinggian dari 20 meter dari lantai hutan. Dari atas jembatan bisa melihat pemandangan hijau di sekitarnya. Pembangunannya dilakukan masyarakat sekitar dengan dibantu oleh tim ahli.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan adanya jembatan ini wisatawan bisa menikmati alam di sekitar PPKAB menyeberang menikmati keindahan TNGGP. Dibangun pada 1997, jembatan ini memudahkan wisatawan menikmati lebatnya hutan. Masyarakat sekitar juga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi dari ekowisata, sekaligus menjadi bumper bagi TNGGP dari kerusakan.
Kawasan TNGGP khususnya yang berada di PPKAB terbagi menjadi beberapa tipe ekosistem berdasarkan ketinggiannya. Pertama ekosistem hutan pegunungan bawah (1000 -1500 mdpl), kedua hutan pegunungan atas (1500-2400 mdpl), ekosistem hutan subalpine (2400-3019 mdpl), dan ekosistem hutan tanaman (didominasi jenis damar).
Selain sebagai pendidikan bagi para tenaga konversi alam tempat juga difungsikan sebagai ekowisata yang merupakan fungsi ketiga bagi taman nasional yaitu fungsi pemanfaatan secara lestari. Bagian pertama dari TNGGP adalah sistem penyangga kehidupan, kedua pelestarian keanekaragaman tumbuhan dan satwa.
Program-program untuk pengunjung yang ditawarkan oleh PPKAB adalah menikmati beberapa topik-topik yang ditawarkan. Pertama menyingkap rahasia hutan hujan tropis, kedua flora-flora bermanfaat di hutan hujan tropis, mamalia hutan hujan tropis, pengamatan burung (birdwatching), lalu asal usul air, dan trekking di hutan (jungle trekking).
Pengamatan dapat dilakukan melalui berbagai jalur untuk memudahkan kegiatan di lapangan. Jalur-jalur dimaksud meliputi Jalur Cipadaranten (panjang 1.640 m), Jalur Rasamala (1.600 m), Jalur Bambu (2.450 m), Jalur Kanopi (1.000 m), Jalur Tangkil (3.500 m), Jalur Tepus (675 m), Jalur Cipanyairan I (940 m), Jalur Cipanyairan II (1.525 m), dan Jalur Afrika (540 m).
Fauna Endemik
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!