Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lima Organisasi Profesi Dokter Luncurkan Konsensus Cegah Terjadinya MARSI

📅 Selasa, 05 Sep 2023, 20:34 WIB | Oleh:

Selain pada anak, MARSI juga kerap terjadi pada pasien lanjut usia (lansia). Dr. dr. Kuntjoro Harimurti, Sp.PD-KGer, M.Sc, perwakilan Pergemi menyatakan, pada dasarnya, hampir seluruh kelompok populasi memiliki risiko untuk terkena MARSI. Namun, lansia memiliki risiko yang lebih tinggi lagi karena kondisi kulit menurun pada saat penuaan ditambah lanjut usia umumnya mempunyai banyak penyakit, banyak menggunakan obat-obatan, dengan status gizi yang kurang (malnutrisi).

"Bagi pasien lansia, MARSI tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan karena rasa nyeri, lamanya waktu penyembuhan luka yang bisa membuat pasien stress, bekas luka, hingga infeksi. Jaringan kulit lansia yang cenderung rapuh karena kehilangan kelembaban dan kekenyalan menjadi faktor risiko tersendiri yang menyebabkan semakin tingginya risiko MARSI," kata dia.

Dr. Kuntjoro menambahkan, ada sebuah studi prevalensi yang dilakukan selama 28 hari, yang menunjukkan bahwa pasien berusia 65-74 tahun dalam perawatan penyakit akut rata-rata mengalami cedera kulit akibat perekat sebesar 21,1 persen. Demikian juga studi yang dilakukan di Australia Barat menunjukkan angka prevalensi MARSI mencapai 41 persen dari total 347 pasien.

Studi lain juga menunjukkan bahwa setiap 100 pasien lansia yang menerima perekat medis/plester dalam proses perawatan, akan ada 55 pasien yang membutuhkan perawatan tambahan akibat MARSI.

Maylita Sari, Sp.KK, FINSDV, dari Perdoski menjelaskan tentang tatalaksana pencegahan MARSI, Pencegahan MARSI harus dimulai dari persiapan kulit, pemilihan bahan perekat medis yang sesuai, pemasangan dan pelepasan perekat medis/plester. Hal-hal ini harus dipahami dengan baik dan benar oleh para tenaga kesehatan.

"Pada praktik selama ini, jenis MARSI yang paling sering ditemui yaitu dermatitis kontak iritan, blister, dermatitis kontak alergi, skin stripping, dan skin tear. Salah satu penyebab utamanya adalah pemilihan perekat medis atau plester yang kurang tepat dan kurangnya pengenalan risiko awal pasien dengan kerusakan kulit akibat perekat medis/plester.

Karakteristik perekat medis/plester yang perlu dipertimbangkan adalah kekuatan rekat, kelembutan, bahan yang berpori (breathable), dan elastisitas. Pada intinya pemilihan perekat medis harus dapat mengakomodasi kebutuhan tujuan perekat medis/plester, lokasi anatomis, dan kondisi yang terjadi pada kulit," jelas dr. Sari.

Perekat medis konvensional yang menggunakan perekat karet (rubber) atau perekat akrilat memiliki kekuatan yang semakin meningkat berdasarkan lama pemakaiannya. Karena daya rekat yang tinggi dari perekat konvensional menyebabkan dapat terangkatnya lapisan kulit epidermis ketika perekat medis/plester dilepas. Hal ini berpotensi menyebabkan MARSI.

Untuk itu diperlukan pilihan perekat medis/plester yang berfungsi dengan baik namun tidak mencederai kulit. Berbeda dengan perekat medis/plester konvensional, perekat medis/plester berbahan perekat silikon tidak masuk ke dalam pori-pori kulit sehingga integritas kulit tetap terjaga ketika dilepaskan dan MARSI dapat dicegah. Pada akhirnya pencegahan MARSI dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban ekonomi," tutur dr. Sari.

Mengingat pentingnya kesadaran dan pencegahan MARSI, diperlukan kerjasama erat antar berbagai pihak terkait. Untuk itu Essity Indonesia memberikan komitmennya dalam mendukung konsensus ini dari organisasi-organisasi profesi dokter tersebut.

Marketing Director Essity Joice Simanjutak, mengatakan, seperti yang sudah dijelaskan oleh para Dokter, sampai saat ini belum ada konsensus dan protokol yang menjadi acuan utama pencegahan MARSI bagi seluruh dokter di Indonesia. Untuk mendukung konsensus ini, pihaknya berkomitmen untuk melakukan edukasi kepada masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran terkait risiko dan dampak MARSI, mendukung sosialisasi MARSI kepada tenaga kesehatan, dan menghadirkan inovasi terbaru perekat medis/plester dengan perekat silikon untuk pencegahan MARSI.

"Membina komunikasi terbuka antara penyedia layanan kesehatan, tenaga kesehatan dan pasien dapat berkontribusi dalam mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi untuk mengurangi cedera terkait perekat medis/plester. Memprioritaskan kesejahteraan dan keselamatan pasien adalah hal terpenting dalam setiap aspek pelayanan kesehatan, termasuk penggunaan perekat medis/plester," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ayo Simak Pesan Khusus dari Bupati Sleman Ini

1 jam lalu | Marcellus Widiarto

Daerah
Ayo Simak Pesan Khusus dari...
Luar Negeri
Ini yang Dilakukan Uni Erop...
Nasional
Gawat! Krisis Air Semakin B...
  • Ekonom Optimistis Sektor Infrastruktur Telko Tetap Bersinar dalam Lima Tahun Mendatang
    Preview komentar:
    Ini Dia Cara menutup,menonaktifkan kartu kredit BNI? Untuk ...
    Untuk menutup kartu kredit Bank BNI Hubungi BNICall ...
  • Tantangan Sekolah Swasta: Persaingan Semakin Berat
    Preview komentar:
    Lanjudkan tetap setia hadir untuk melayani
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...

Event Akhir Pekan di Jakarta 1-2 Agustus: Dari Brightspot hingga JSD Blok M Fest

Event Akhir Pekan di Jakarta 1-2 Agustus: Dari Brightspot hingga JSD Blok M Fest

31 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.