Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Film 'Barbie' Karya Greta Gerwig Disebut Film Klasik ‘Bimbo Feminis’

📅 Sabtu, 02 Sep 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Hak-hak Ken

Di Barbieland, pacar Barbie yang tinggal di pantai "hanyalah Ken". Di dunia nyata, dia menemukan sebuah masyarakat di mana laki-laki berkuasa. Tidak lama kemudian, kepolosan Ken yang menawan dinodai oleh sebuah konsep yang baru di tempat asalnya yaitu patriarki atau sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan dominan.

Ken kemudian mabuk dominasi laki-laki dan film ini mengambil setiap kesempatan untuk mengolok-oloknya. Ryan Gosling sangat baik dalam momen-momen komedi ini. Pada satu titik, Ken menerobos masuk ke rumah sakit dan menuntut untuk melakukan operasi meskipun tidak memiliki kualifikasi - selain menjadi seorang laki-laki, tentu saja.

Kembali ke Barbieland, Ken menegakkan visinya sendiri tentang patriarki. Setiap malam adalah "malam laki-laki". Setiap Barbie ada untuk dilirik, menyajikan bir, dan memelihara ego laki-laki yang rapuh. Di bawah pemerintahan Ken, mantan presiden perempuan Barbieland menyajikan minuman untuk para laki-laki macho di pantai. Mahkamah Agung yang semuanya perempuan diturunkan menjadi regu pemandu sorak.

Dalam bukunya yang terbit tahun 2020, Men Who Hate Women,, pendiri proyek Everyday Sexism, Laura Bates meneliti apa yang disebutnya sebagai "manosphere" atau berbagai wajah misogini radikal dalam masyarakat modern, mulai dari aktivis hak-hak laki-laki hingga incel atau involuntary celibacy yang bisa diterjemahkan sebagai "jomblo terpaksa"..

Dalam penggambarannya tentang keluarga Kens, film Gerwig berhadapan langsung dengan manosphere. Sama seperti para laki-laki yang diindoktrinasi ke dalam kelompok-kelompok radikal ini, keluarga Kens dituntun untuk percaya bahwa hak-hak mereka dikalahkan oleh perempuan dan menemukan diri mereka menyesuaikan diri dengan stereotip laki-laki yang beracun untuk mendapatkan kembali rasa kontrol.

Barbie karya Gerwig melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam mengekspos betapa merusaknya ideologi patriarki bagi masyarakat. Meskipun film ini jelas menarik bagi para perempuan, para laki-lakilah yang benar-benar perlu menontonnya. Barbie membuat sebuah poin yang benar-benar perlu didengar oleh para laki-laki di Leicester Square: bukan boneka Barbie yang mengancam hak-hak, kesempatan, dan keamanan perempuan, melainkan patriarki.

Barbie adalah salah satu film yang paling mengejutkan dan berani tahun ini. Apa yang bisa saja menjadi sebuah film gagal yang sembrono berhasil menjadi karya film yang substansial, penting dan pedih - sekaligus sangat menyenangkan untuk ditonton.

Rahma Sekar Andini dari Universitas Negeri Malang menerjemahkan artikel ini dari bahasa InggrisThe Conversation

Harriet Fletcher, Lecturer in Media and Communication, Anglia Ruskin University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Harga Telur di Tingkat Pengecer di Kabupaten Lebak Turun

23 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Telur di Tingkat Peng...

55 Kecamatan di Banten Krisis Air, Polda Kirim Bantuan

25 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
55 Kecamatan di Banten Kris...

4 Tempat Usaha Don Ritto Mulai Disisir Petugas Kejagung

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
4 Tempat Usaha Don Ritto Mu...

Warga Akan Lebih Sehat Bila Tinggal di Rumah yang Layak Huni

34 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Warga Akan Lebih Sehat Bila...

ASN Yang Segera Memasuki Masa Pensiun Perlu Persiapan

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
ASN Yang Segera Memasuki Ma...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.