Film 'Barbie' Karya Greta Gerwig Disebut Film Klasik ‘Bimbo Feminis’
📅 Sabtu, 02 Sep 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Warner Bros Pictures
Harriet Fletcher, Anglia Ruskin University
Artikel berikut mengandung spoiler.
Bagi sebagian orang, Barbie adalah "girlboss" - Dia glamor, sukses, dan memiliki rumah impiannya sendiri. Bagi yang lain, Barbie mewakili stereotip perempuan yang sudah ketinggalan zaman - "gadis bimbo (perempuan yang berpenampilan menarik, tapi tidak pintar) berambut pirang di dunia fantasi", menurut lagu hit Aqua pada tahun 1997, Barbie Girl.
Tanyakan saja pada laki-laki dengan megafon yang berdiri di luar pemutaran pers film Barbie baru yang saya hadiri di Leicester Square, Inggris. Dengan lantang, ia memprotes film tersebut dan bersikeras bahwa Barbie adalah panutan yang buruk dan berbahaya bagi para perempuan muda.
Namun, Barbie sangat cocok dengan repertoar sutradara Greta Gerwig tentang film-filmnya yang fokus pada perempuan. Ada dua filmnya yang dinominasikan untuk Oscar, Ladybird (2017) dan Little Women (2019). Gerwig adalah seorang pembuat film feminis yang karakternya penuh rasa ingin tahu, transgresif, dan memberontak terhadap keadaan yang membatasi mereka. Barbie tidak terkecuali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Film ini mengisahkan Barbie (Margot Robbie), seorang Stereotypical Barbie, yang kehidupan sempurnanya di Barbieland perlahan-lahan berantakan karena manusia yang bermain dengannya di dunia nyata merasa sedih. Kaki Barbie-nya yang melengkung menjadi rata, pahanya menjadi berselulit dan ia mulai terganggu oleh pikiran tentang kematian.
Dengan bantuan Weird Barbie (Kate McKinnon) - yang secara komikal ditata seolah-olah sebagai seorang anak kecil "bermain dengannya terlalu keras" - Stereotypical Barbie ditugaskan memasuki dunia nyata untuk menemukan keluarga manusianya dan menyelesaikan masalah mereka.
Film ini dibuka dengan parodi dari adegan terkenal dari film Stanley Kubrick 2001: A Space Odyssey (1968). Dunia menjadi kacau balau ketika sebuah boneka Barbie raksasa mendarat di padang pasir seperti UFO. Melalui narasi Helen Mirren yang luar biasa, kita diberitahu bahwa penghuni gurun tandus ini adalah sekumpulan gadis kecil yang hanya memiliki boneka untuk bermain. Gadis-gadis ini dibebaskan oleh kedatangan teman baru mereka yang menyenangkan dan, karena lelah bermain sebagai ibu, mereka menghancurkan boneka bayi mereka untuk selamanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pembukaan ini memposisikan Barbieland sebagai utopia feminis. Di Barbieland, perempuan bisa melakukan apa saja: menjadi presiden, memenangkan penghargaan sastra, dan mengadakan pesta yang luar biasa.
Barbie di dunia nyata
Pandangan Gerwig tentang Barbie sangat tepat. Penelitian saya mengeksplorasi reklamasi feminis baru-baru ini terhadap sosok "bimbo". Di TikTok, tren #Bimbo melihat pembuat konten yang menampilkan feminin merebut kembali label "bimbo" yang sebelumnya dianggap menghina dan estetis. Alih-alih meninggalkan feminitas untuk berhasil dalam masyarakat patriarki, feminisme bimbo justru merangkul feminitas sambil mendukung kemajuan perempuan.
Di dunia nyata, Barbie terkejut saat mengetahui bahwa segala sesuatunya sedikit berbeda dibandingkan di Barbieland. Dia dilecehkan saat bermain sepatu roda dan dipanggil secara tidak senonoh oleh pekerja konstruksi laki-laki. Sebuah survei 2021 menemukan bahwa empat dari lima perempuan muda di Inggris telah dilecehkan secara seksual di ruang publik. Sementara Barbie mengatakan bahwa dia merasa "tidak nyaman" dalam situasi seperti ini, Ken (Ryan Gosling) justru merasa "dikagumi".
Ketika Barbie menemukan keluarga manusianya, ia disambut dengan permusuhan dari anak perempuan remaja Sasha, yang mengklaim bahwa Barbie tidak lebih dari sekadar "bimbo profesional" yang tubuh sempurnanya dan gaya hidupnya yang istimewa telah membuat para perempuan merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri selama beberapa dekade.
Seperti halnya perempuan sungguhan, Barbie dihadapkan pada objektifikasi dan kritik. Film ini mengenal penontonnya dan membuat komentar yang cerdas dan akurat tentang pengalaman perempuan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!