Napak Tilas Jejak Alfred Wallace di Maros dan ‘Surga’ Kupu-kupu Bantimurung
📅 Jumat, 18 Agu 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis"Dia menggunakan area ini sebagai basis untuk melaksanakan kegiatannya, menjelajahi gua, lembah di antara bukit karst, mengumpulkan serangga, kupu-kupu, dan spesimen lainnya," ujar Adam.
Untuk menemukan lokasi pondok, Adam mengandalkan petunjuk dari buku The Malay Archipelago yang menyatakan bahwa pondok Wallace ada di sekitar bukit batuan basal, di dekat pohon sukun serta palem. Di sekitarnya (100 meter) juga terdapat sumber air dari sumur.
"Pegunungan kapur … tampaknya sepenuhnya dangkal, bertumpu pada dasar basal yang di beberapa tempat membentuk bukit-bukit bulat rendah di antara pegunungan yang lebih terjal…" tulis Wallace dalam The Malay Archipelago.
Nah, dari tiga bukit vulkanik di sekitar kawasan karst Maros, ada dua bukit yang berdampingan bernama Amassangang. Letaknya sekitar 1,6 km dari Bungaeja. Saat mereka mendatangi lokasi, tidak ada jejak-jejak pondok Wallace di bukit tersebut karena diduga sudah musnah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, yang menguatkan dugaan Adam, ada sumur yang dahulu acap digunakan warga untuk mengambil air. Keberadaan sumur cocok dengan keterangan Wallace dalam buku The Malay Archipelago yang mengatakan, setiap hari dia mengambil air dari sumur di sekitar pondok untuk mandi. Adam, Kama, dan Taufik kemudian menandai lokasi tersebut sebagai pondok Wallace.
Saat ini, bukit Amassangang tidak berpenghuni. Tidak ada lagi sumur berisi air. Hanya ada tanah kosong disertai beberapa bongkahan besar batu basal dan ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar. Tak sampai 1 km dari lokasi pondok yang ditandai, terdapat pabrik semen Bosowa.
"Lokasi sumur ditandai dengan batu basal di kaki bukit," ujar Kama Jaya yang juga mengikuti Wallacea trail. Warga desa juga berpartisipasi menandai lokasi Wallace dengan membangun bangunan seperit pos penjagaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adam mengatakan penelitiannya dapat ditindaklanjuti dengan penelitian arkeologi untuk menggali jejak-jejak Wallace di sekitar pondok. Sebab, Wallace membawa banyak barang, jumlahnya berpeti-peti hingga harus dibawa oleh sepuluh pekerja. Kemungkinan masih ada benda-benda seperti selongsong peluru, botol-botol kaca, dan capit untuk mengambil spesimen. "Secara teoritis mungkin ada yang bisa ditemukan di daerah sini. Seperti pin, botol, dan lain-lain," kata dia.
Kerajaan kupu-kupu Bantimurung
Semasa di Maros, Wallace juga mengunjungi air terjun Bantimurung pada 19-22 September. Di lokasi ini, terdapat telaga Kassi Kebo yang dikunjungi banyak kupu-kupu untuk menyesap mineral basah. Saat pagi hari selepas hujan, bisa ada ratusan kupu-kupu yang terlihat di telaga ini.
Ada sekitar enam spesies kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace di Bantimurung. Menurut peneliti kupu-kupu senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Djunijanti Peggie, jenis kupu-kupu temuan Wallace tersebut menjadi dasar bagi begitu banyak penelitian populasi kupu-kupu lanjutan di Indonesia, khususnya di Sulawesi.
Peggie mengemukakan, Sulawesi adalah pulau dengan tingkat endemisitas kupu-kupu tertinggi di Indonesia. Dari sekitar lima ratus jenis kupu-kupu yang ditemukan, sekitar 43% di antaranya hanya ditemukan di Sulawesi. Wallace berhasil menemukan 230 jenis di antaranya.
"Terbanyak (jenis kupu-kupu) di Sumatra. Tapi di Sulawesi meskipun tidak banyak keragaman jenisnya, tapi banyak yg endemik," kata Peggie.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!