'Punic Buying' Melanda AS setelah India Menghentikan Ekspor Beras
📅 Rabu, 26 Jul 2023, 01:11 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
WASHINGTON - Larangan ekspor beras India telah memicu perilaku beli yang berlebihan atau Punic Buying pada sejumlah wilayah di Amerika Serikat (AS), baru-baru ini, menyebabkan harga beras kemasan 20 pon melonjak dari 16 dolar AS menjadi hampir 50 dolar AS di sebagian toko swalayan.
India yang menyumbang 40 persen dari ekspor beras dunia, pada Kamis (20/7) menghentikan ekspor beras terbesarnya, kategori beras non-basmati, untuk menstabilkan harga domestik, yang memicu kekhawatiran akan kekurangan global.
Dikutip dari Daily Mail, video dan laporan di media sosial selama akhir pekan menunjukkan orang India-Amerika berdiri dalam antrean panjang atau membeli beras dengan panik di supermarket-supermarket diTexas, Michigan, New Jersey Alabama, Ohio, Illinois, dan California.
"Beberapa toko kelontong memunculkan ide-ide dengan memaksa pelanggan membelanjakan minimal 35-50 dolar AS untuk barang-barang lain untuk membeli satu kantong beras, keterlaluan," kata seorang konsumen kepada outlet Business Line.
Menurut PBS Frontline, harga beras di AS telah melonjak rata-rata sekitar 11 persenn
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sebuah toko di Mason, Ohio, menjatah pembelian menjadi satu kantong seberat 20 pon per orang, seharga 24 dolar," lapor PBS.
Beras non-basmati adalah beras yang paling umum digunakan dalam resep tradisional Amerika, serta masakan Asia dan Meksiko.
Langkah tersebut menunjukkan kepekaan pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi terhadap inflasi pangan menjelang pemilihan umum tahun depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah India mengatakan, larangan itu akan berlaku mulai 20 Juli, dan hanya kapal yang sedang memuat yang diizinkan untuk mengekspor.
"Beras pratanak, yang mewakili 7,4 juta ton ekspor pada 2022, tidak termasuk dalam larangan tersebut," kata pemerintah India.
Beras adalah makanan pokok bagi lebih dari 3 miliar orang, dan hampir 90 persen tanaman intensif air ini diproduksi di Asia, di mana pola cuaca El Nino biasanya menurunkan curah hujan.
Tapi hujan lebat di utara India selama beberapa minggu terakhir telah merusak tanaman yang baru ditanam di negara bagian Punjab dan Haryana.
Sawah terendam selama lebih dari seminggu, merusak bibit, dan memaksa petani menunggu sebelum mereka dapat menanam kembali bibit padi.
Di negara-negara penghasil padi utama lainnya, petani telah menyiapkan pembibitan padi tetapi tidak dapat memindahkan bibit karena curah hujan yang tidak memadai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!