Destinasi Edukasi di Bumi Pendalungan
📅 Sabtu, 17 Jun 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoDi samping melihat perkebunan, pengunjung dapat mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan, sekaligus menikmati secara langsung hasil produksi kopi dan kakao berupa minuman panas atau dingin, cokelat, permen, hingga ice cream. Di sini juga tersedia toko yang menyediakan produk kopi dan kakao sebagai oleh-oleh.
Telah berdiri sejak 1911 dengan nama awal Besoekisch Proefstation, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dilengkapi dengan Museum Kopi dan Kakao. Di sini kopi dan kakao beberapa kopi dan kakao diawetkan dalam toples-toples kecil. Dalam terdapat penjelasan tentang tonggak sejarahnya lembaga ini.
Di dalam museum diceritakan perjalanan kopi dan kakao sampai masuk ke Nusantara. Kopo masuk pada 1696. Sementara kakao lebih tua lagi, yaitu sejak 1560. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia diresmikan pada 20 Mei 2016. Selain sebagai lokasi penelitian kopi dan kakao tempat ini dirancang sebagai tempat edukasi bagi para siswa atau siapa saja yang ingin mengetahui sejarah kopi dan kakao.
Yang lebih memanjakan mata di dalam area pusat penelitian dipelihara rusa tutul dan rusa timor. Bagi wisatawan tersedia berbagai fasilitas playground seperti flying fox, ada tempat karaoke yang letaknya berada di tengah-tengah kebun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jember juga memiliki peradaban masa lalu yang bisa dilihat dari Situs Duplang yang juga bisa dijadikan wisata edukasi. Peninggalan dari zaman megalitikum ini berupa temuan batu-batu besar digunakan untuk upacara tertentu.
Zaman megalitikum atau batu besar ditandai dengan pembangunan benda dari batu dengan ukuran relatif besar. Tradisi yang muncul di beberapa tempat di bumi sebagai sarana dalam menjalankan upacara tertentu.
Seperti namanya Situs Duplang berada Dusun Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Berada di ketinggian udara di sekitarnya masih sejuk, lingkungan di sekitarnya pun masih sangat asri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dibuka selama 24 jam dan selama 7 hari dalam sepekan, situs tersebut memiliki luas 12 hektare berada di lereng Gunung Argopuro. Lokasi ini ditemukan bermacam artefak seperti kubur batu atau dolmen., berupa batu besar yang ditopang oleh 4 atau 6 buah batu, kemudian ditutup oleh papan batu.
Artefak lainnya adalah menhir berupa batu yang berdiri tegak. Batu ini difungsikan sebagai benda untuk pemujaan kepada arwah atau roh nenek moyang. Batu kenong tunggal atau batu kecil yang lancip di bagian atasnya berfungsi sebagai tempat persembahan kepada arwah atau roh para leluhur.
Batu kenong kembar, merupakan batu yang tengah atau ujungnya menonjol seperti alat gamelan kenong untuk menunjukkan arah keberadaan harta karun. Sedangkan lesung merupakan sebuah batu yang ditengahnya berlubang, sama halnya dengan lesung pada umumnya. Fungsinya untuk menumbuk padi, kopi atau lain sebagainya.
Ditemukan juga peti kubur batu atau dikenal dengan nama sarkofagus berbentuk lesung. Pada zaman itu benda ini difungsikan sebagai sebuah peti mati untuk menyimpan jenazah untuk sementara atau selamanya. hay/And
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!