Destinasi Edukasi di Bumi Pendalungan
📅 Sabtu, 17 Jun 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoHieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling tua yang dikenal manusia. Beberapa dari tulisan tersebut berasal dari tahun 3000 sebelum masehi dan telah digunakan oleh bangsa Mesir selama lebih dari 3000 tahun.
Masyarakat Mesir menggunakan hieroglif kursif untuk sastra keagamaan pada papirus dan kayu. Ada pula variasi formal tulisan yang lebih kecil, yang disebut hieratik dan demotik, tetapi secara teknis tulisan tersebut bukan merupakan hieroglif dari mesir
Musem Huruf dilengkapi perpustakaan yang berisi buku-buku bertema aksara, kebudayaan, dan kesenian, dan juga kafe yang menyediakan makanan dan minuman. Museum yang masih tergolong baru ini beroperasi antara pukul 10.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.
Agrotechnopark Jubung
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Jember, kita bisa belajar tentang menanam dan menggunakan tanaman obat. Melalui Wahana Edukasi Tanaman Obat (WETO), yang dikembangkan Fakultas Farmasi Universitas Jember pengunjung bisa belajar mengenai seluk beluk tanaman obat dan dan proses pembibitannya.
Berada di Agrotechnopark Jubung di Kecamatan Jubung, Jember, tempat ini awalnya adalah lokasi uji coba tanaman dan pembibitan tanaman obat. Saat ini setidaknya ada 200 jenis tanaman obat semua tanaman diberi nama dengan bahasa Indonesia dan nama ilmiah sehingga pengunjung bisa membaca dan mengenal jenis tanaman obat.
Tanaman yang ada misalnya seperti kol Banda (Pisonia alba Spanoghe), kumis kucing (Orthosiphon aristatus), bunga kenop (Gomphrena globose), jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val), bungur (Lagerstroemia speciosa), dan alang-alang (Imperata cylindrical).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain kebun tanaman obat, WETO juga dilengkapi dengan gedung rimpang, green house, dan tanaman hias. Gedung rimpang itu sebagai lokasi untuk display pemanfaatan tanaman obat. Sedangkan green house sebagai etalase tanaman obat. Beberapa tanaman hias yang bisa djumlao adalah aneka ragam anggrek.
Untuk memudahkan para pengunjung WETO dilengkapi dengan aula, gazebo, dan toilet, juga kafe herbal dan resto. Menurut rencana, WETO selanjutnya akan dilengkapi dengan klinik kesehatan herbal, sehingga fungsinya semakin luas tidak hanya edukasi, namun juga rekreasi dan pengobatan.
Dari peta denah yang diterima, kawasan itu jika dilihat dari atas akan terlihat seperti daun tembakau, daun yang menjadi logo Pemkab Jember dan Universitas Jember sendiri. Tembakau memang selama ini menjadi komoditas andalan Kabupaten Jember.
Wisata edukasi lain di Jember adalah Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia atau Coffee and Cocoa Science Techno Park (CCSTP). Lokasinya berada di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, sekitar 12 kilometer ke arah selatan Kota Jember. Berdiri sejak zaman Belanda merupakan satu-satunya lembaga yang menjadi pusat penelitian kopi dan kakao.
Ketika memasuki gerbang utama, pandang mata pengunjung akan disambut dengan pohon kopi, kakao dan pohon lainnya. Luas lahannya yang mencapai 160 hektare membuat pengunjung puas berada di areal perkebunan kopi dan kakao (cokelat) yang asri.
Untuk berkeliling kebun tersedia mobil gandeng yang dirancang seperti kereta dari kayu. Cukup membayar tiket masuk 5.000 rupiah per orang dan 10.000 rupiah per orang untuk naik kereta wisata, pengunjung dapat mengetahui perkebunan ini didampingi seorang pemandu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!