Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengembangan Ekonomi Perdesaan Butuh Pembiayaan Murah

📅 Kamis, 25 Mei 2023, 01:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pengembangan Ekonomi Perdesaan Butuh Pembiayaan Murah Doc: Sumber: BI, OJK - KJ/ONES

» Agar pondasi ekonomi kuat, BI dan OJK harus mendorong demokratisasi di sektor keuangan.

» UMKM sediakan 90 persen lapangan kerja, tetapi porsi kreditnya baru 21 persen pada 2022.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diminta agar ke depan tidak membuat kebijakan yang gamang di sektor keuangan baik yang terkait dengan industri jasa keuangan maupun sistem pembayaran. Bank sentral diharapkan lebih menegaskan visinya terutama dalam mendorong pembiayaan ke sektor usaha yang benar-benar berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Hal itu disampaikan peneliti dari Mubyarto Institute, Awan Santosa menanggapi tujuh prioritas kebijakan BI dalam lima tahun ke depan sebagaimana yang disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo usai dilantik kembali untuk periode jabatan kedua 2023-2028 oleh Mahkamah Agung di Jakarta, Rabu (24/5).

Awan mengatakan agar pondasi ekonomi dan keuangan Indonesia lebih kokoh dan tidak rentan terhadap krisis, maka bank sentral bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mendorong demokratisasi keuangan.

Perry Warjiyo seusai dilantik mengatakan akan memperkuat bauran dan sinergitas kebijakan dengan Pemerintah untuk menstabilkan ekonomi dan memajukan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut dinilai abu-abu karena di satu sisi ada ancaman inflasi yang menuntut kenaikan suku bunga, sedangkan BI cenderung menahan kenaikan suku bunga acuan.

Di sisi lain, kebijakan menahan suku bunga tetap rendah dengan harapan suku bunga kredit tidak memberatkan nasabah khususnya debitur. Namun dalam praktiknya suku bunga kredit tetap tinggi yakni double digit atau di atas 10 persen.

Maka tidak heran kalau Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun pernah menyentil para bankir kalau Net Interest Margin (NIM) bank-bank di Indonesia jangan-jangan yang tertinggi di dunia.

Selain bunga kredit yang tinggi, komposisi penyaluran kredit bank pun lebih didominasi kredit konsumtif seperti untuk perdagangan dan membiayai produk komoditas impor termasuk pangan.

Begitu juga porsi kredit bank ke properti yang dijadikan ajang spekulasi oleh para pengusaha-pengusaha properti, sehingga sangat rentan memicu gelembung (bubble) ekonomi.

Menurut Awan, BI semestinya merumuskan kebijakan yang mendorong bank membiayai sektor-sektor produktif seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di perdesaan. "Porsi kredit ke UMKM atau ekonomi kerakyatan itu harus diperbesar sebagai bagian dari demokratisasi keuangan," kata Awan.

Diminta terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata mengatakan Gubernur BI semestinya memberi perhatian lebih pada sektor UMKM yang terbukti menjadi penolong saat negara dalam situasi krisis, baik saat krisis moneter pada 1998, krisis global 2008, dan krisis karena pandemi baru-baru ini, terbukti UMKM dan sektor pertanian lah yang jadi penopang utama ekonomi nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Tenun Sumba Berpotensi Besa...

PSIM Mempertahankan Empat Legiun Asing

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
PSIM Mempertahankan Empat L...

Menteri Keuangan Sambangi PBNU

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Menteri Keuangan Sambangi PBNU
Daerah
Perairan Sulawesi Tenggara ...

Diguncang Protes, Zelensky Pecat Panglima Angkatan Darat Ukraina

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Diguncang Protes, Zelensky ...
Mundur dari Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang Temui Prabowo

Mundur dari Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang Temui Prabowo

22 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.