Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasil Riset: Perkawinan Anak Meningkatkan Depresi Perempuan

📅 Rabu, 17 Mei 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Menikah pada usia muda dapat menjadi pengalaman yang traumatis dan menegangkan bagi anak perempuan. Mereka sering terpisah dari keluarga dan teman-temannya, dan terpaksa tinggal bersama suami dan keluarganya, sehingga meningkatkan risiko isolasi sosial.

Tanggung jawab pernikahan, seperti melahirkan anak dan mengasuh anak, dapat memberikan tekanan fisik dan emosional yang signifikan pada gadis muda yang masih dalam masa pertumbuhan. Penelitian internasional menunjukkan bahwa mereka juga lebih mungkin menjadi korban kekerasan pasangan intim dan hubungan seksual yang dipaksakan.

Menurut penelitian psikologi, terus-menerus terpapar pengalaman buruk dan stres seperti itu dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, menyebabkan gangguan seperti depresi, kecemasan, dan serangan panik.

Diskriminasi gender

Temuan penelitian saya menjelaskan lebih lanjut tentang fenomena "perempuan hilang". Ini mengacu pada rendahnya rasio perempuan terhadap laki-laki dalam populasi negara berkembang.

Perkawinan anak seringkali merupakan akibat dari ketidaksetaraan gender, yang secara tidak proporsional mempengaruhi perempuan dan memperparah masalah kesehatan mental seperti depresi dan stres berat. Hal ini dapat menyebabkan konsekuensi yang merugikan, karena individu dengan gangguan jiwa lebih rentan untuk terlibat dalam perilaku berisiko, seperti menyakiti diri sendiri.

Ketika mempertimbangkan perkiraan "perempuan hilang", Indonesia diidentifikasi sebagai salah satu negara Asia dengan jumlah perempuan hilang yang signifikan, terhitung lebih dari satu juta pada 2010.

Karena perkawinan anak terkait dengan kesehatan mental yang buruk, temuan ini memberikan penjelasan yang mungkin atas tingginya angka kematian perempuan di Indonesia.

Melindungi dari bahaya abadi dari pernikahan anak

Dengan hampir 640 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia menikah saat masih anak-anak, penelitian ini mengidentifikasi kelompok perempuan yang membutuhkan dukungan psikologis dan akses ke perawatan kesehatan mental.

Mengatasi masalah kesehatan mental para perempuan ini tidak hanya akan memastikan kesejahteraan mental mereka tapi juga anak-anak mereka, karena kesehatan mental yang buruk dapat diturunkan dari generasi ke generasi.

Yang penting, temuan ini memberikan wawasan tentang undang-undang dan kebijakan yang ditargetkan untuk mengakhiri perkawinan anak. Secara khusus, hal ini mendukung alasan di balik kebijakan Indonesia baru-baru ini untuk menaikkan usia minimum bagi anak perempuan untuk menikah dari 16 menjadi 19 tahun - sebuah langkah penting menuju penghapusan perkawinan anak di Indonesia.

Langkah-langkah kebijakan tersebut akan mempromosikan kesetaraan gender, serta dampak yang lebih baik bagi perempuan.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.