Hasil Riset: Perkawinan Anak Meningkatkan Depresi Perempuan
📅 Rabu, 17 Mei 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Arnas Padda
Danusha Jayawardana, Monash University
Sekitar 640 juta anak perempuan dan perempuan di dunia saat ini, menurut data UNICEF, diperkirakan menikah pada masa kanak-kanak. Prevalensinya sedikit menurun dengan 1 dari 5 perempuan muda berusia 20-24 tahun menikah saat masih anak-anak, dibandingkan 1 dari 4 sekitar 10 tahun lalu.
Namun, perkawinan anak terus menjadi praktik berbahaya di banyak negara berkembang dan sering dipandang sebagai kebutuhan untuk bertahan hidup. Di banyak komunitas, perkawinan anak dipandang sebagai cara untuk melindungi anak perempuan dan memastikan keamanan finansial mereka, sekaligus sejalan dengan peran dan harapan gender tradisional.
Indonesia memiliki tingkat perkawinan anak yang tinggi di kawasan Asia Pasifik, dan tertinggi kedelapan di dunia. Satu dari sembilan anak perempuan di Indonesia menikah sebelum berusia 18 tahun.
Meskipun efek merugikan dari perkawinan anak pada pendidikan anak perempuan, karir peluang, kesehatan dan keselamatan fisik terdokumentasikan dengan baik, dampak mendalam yang ditimbulkannya terhadap kesehatan emosional dan mental wanita sering diabaikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Riset kuantitatif saya di Indonesia menunjukkan bahwa perkawinan anak memiliki dampak sangat negatif pada kesehatan mental perempuan.
Tidak begitu bahagia selamanya untuk pengantin cilik Indonesia
Pada 2019, pemerintah Indonesia merevisi Undang-Undang Perkawinan, meningkatkan usia minimum bagi anak perempuan untuk menikah hingga 19 tahun - usia yang sama dengan anak laki-laki. Sebelumnya, dengan izin orang tua, anak perempuan diperbolehkan menikah sejak usia 16 tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tapi masih mungkin untuk menikahkan anak perempuan lebih awal dengan mendapatkan persetujuan dari pengadilan agama atau pejabat setempat, dalam hal ini tanpa batasan usia minimum untuk menikah.
Dengan menggunakan data dari lebih dari 5.000 perempuan Indonesia, saya menemukan bahwa menikah dini - terutama pada usia 18 tahun - menyebabkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Saya menemukan bahwa penundaan satu tahun dalam pernikahan mengurangi kemungkinan perempuan mengalami depresi.
Penelitian saya juga menunjukkan bahwa mobilitas pasar kerja yang terbatas dan kesehatan fisik yang buruk merupakan faktor potensial yang mendasari hubungan ini.
Temuan ini menyiratkan bahwa ongkos akibat perkawinan anak diremehkan. Sebab, selain dampak buruk perkawinan anak terhadap kesejahteraan fisik, perkawinan anak juga dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan emosional anak perempuan.
Hal ini menunjukkan bahwa jika kita mempertimbangkan biaya ekonomi yang besar dari gangguan mental di negara-negara berkembang, manfaat kesejahteraan dari penghentian praktik berbahaya ini di seluruh dunia akan jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya yang sebesar US$22 miliar (sekitar Rp 325 triliun).
Efek kesehatan mental
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!