Benahi Kebijakan yang Merugikan Petani
📅 Sabtu, 06 Mei 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi"Sosialisasi itu penting, karena lidah kita juga tergantung kebiasaan. Kalau lidahnya dibiasakan dengan sorgum maka sampai tua pun akan cari sorgum," paparnya.
Perbaikan Sistem Pangan
Pada kesempatan lain, Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan kalau melihat sistem pangan sekarang, data kerawanan pangan ini menunjukkan perlunya memperbaiki sistem pangan.
Menurut Qomar, data kerawanan pangan juga perlu dilengkapi dengan data kejadian obesitas yang juga menunjukkan tren kenaikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Karena itu diversifikasi pangan, terutama pangan lokal dan distribusi pangan dengan prioritas pemenuhan kebutuhan lokal akan menurunkan risiko kerawananan pangan," kata Qomar.
Selain produksi, kerawanan pangan juga terjadi karena pangan yang tersedia tidak terjangkau dan distribusi yang tidak merata.
Deputi Asisten Utusan Kerja Presiden (UKP), Ahmad Yakub, mengatakan bahwa kelaparan akut dunia dalam beberapa tahun ini terjadi karena berbagai sebab seperti konflik dan perang, perubahan iklim dan kegagalan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyebab-penyebab itu gagal diantisipasi karena salah satu latar utamanya adalah selama ini kebutuhan pangan di-support terutama oleh mekanisme pasar. Sementara petani-petani kecil terus dikalahkan oleh logika pasar sehingga impor lebih diandalkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya.
"Dari situ, kita belajar bahwa kedaulatan pangan yang dimulai dari satuan masyarakat terkecil, pertanian keluarga, agroekologis, serta solidaritas akan menyelamatkan dunia dari kelaparan dan kemiskinan," kata Yakub.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!