Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bersyukur atau Berkumpul? Menilik Urgensi Serikat Dosen di Indonesia

📅 Selasa, 02 Mei 2023, 10:59 WIB | Oleh: Tim Penulis

Tak hanya itu, ada relasi kuasa yang tidak imbang antara dosen senior dengan mereka yang dianggap junior. Hal ini pun berpotensi jadi batu sandungan.

"Kemungkinan union busting (upaya penjegalan serikat) dari orang yang lebih punya kuasa itu tentu saja ada, selalu ada [..] karena bagaimanapun dia mengganggu status quo kan? Pembentukan suara kolektif yang lebih besar itu sebenarnya akan mengganggu kuasa [..] Orang yang punya relasi kuasa yang lebih tinggi tentu saja sangat mungkin terganggu dengan upaya-upaya tersebut," kata Nabiyla.

Perdebatan ini, menurut Nabiyla dan Kanti, justru semakin menegaskan perlunya serikat berdiri, yang memang bertujuan membangun suara kolektif.

Terkait bentuk serikatnya, Nabiyla melihat ada berbagai opsi.

Ada pilihan membentuk federasi nasional dengan jangkauan yang luas, mengingat banyak dosen tersebar di penjuru Indonesia dengan kondisi kesejahteraan yang belum banyak mendapat sorotan. Catatannya, tetap ada cabang serikat di tiap universitas atau wilayah tertentu agar para anggota bisa bertatap muka dan memperjuangkan isu secara lokal.

Namun, terlepas bentuknya, Nabiyla berpendapat yang terpenting adalah menggandeng dulu sebanyak mungkin massa yang mau berserikat.

Kuantitas adalah yang terpenting dalam membangun serikat, untuk memastikan suara mereka bergaung dan memberikan dampak. Apalagi, butuh massa yang tak sedikit untuk bisa merepresentasikan sekitar 300.000 dosen di Indonesia.

Menurut Nabiyla dan Kanti, membangun kesadaran kolektif akan menjadi perjuangan yang panjang.

Namun, upaya ini krusial agar dosen tak melulu "nrima ing pandum" atau berpasrah pada kesejahteraan dan kapasitas mengajarnya yang terhambat sehingga kita bisa menghindari mendengar kisah tragis dari Dyah yang lain.

Dalam wawancaranya dengan The Conversation Indonesia, Dyah menyayangkan bahwa tak seperti profesi lainnya, tak ada serikat profesional yang bisa menampung dan melindungi aspirasinya dan rekan-rekannya.

Ketika itu, perkumpulan dosen yang ada di kampusnya dibuat berdasarkan warna politik dan sekadar alat untuk mengumpulkan dukungan. Belum lagi, dosen senior hanya meminta mereka yang muda untuk "bersyukur dan bersabar".

"Serikat dosen sekurang-kurangnya bisa menengahi atau mengimbangi relasi kuasa yang tidak seimbang yang kerap muncul di kampus-kampus negeri atau swasta dengan tradisi feodalistik tinggi antara dosen senior-junior," ujar Dyah.The Conversation

Anggi M. Lubis, Business + Economy Editor, The Conversation dan Luthfi T. Dzulfikar, Youth + Education Editor, The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Perubahan Cuaca Benarkah Dapat Mengakibatkan Infeksi?

46 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Perubahan Cuaca Benarkah Da...
Megapolitan
Pembangunan SDM dan Pengemb...

Pantai Harus Tampak Indah, tak Boleh Kumuh

54 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pantai Harus Tampak Indah, ...
Olahraga
Dua Petenis Terus Bersaing ...
Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...
Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.