Bank Dunia Serukan Pendekatan Baru Atasi Krisis Utang
📅 Kamis, 27 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiSatu masalah utama yang masih tersisa adalah bagaimana IMF dan Bank Dunia menilai kesinambungan utang negara-negara dengan mengecualikan pinjaman dalam negeri, yang menutupi tingkat pinjaman yang terlalu tinggi.
Hal itu karena sebagian negara-negara berkembang telah membangun sektor keuangan domestik mereka tanpa kerangka fiskal berkelanjutan yang sesuai. "Tiba-tiba alat penilaian Anda yang hanya melihat asumsi bahwa orang-orang ini hanya bisa meminjam ke luar negeri, sudah tidak sesuai lagi," katanya.
Masih Rentan
Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan negara-negara dunia ketiga yang secara ekonomi masih rentan, tidak memiliki pilihan lain selain utang sekalipun utang tersebut tidak mungkin dibayar kembali.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dari riset Paul Collier, bisa kita lihat bahwa kekuatan ekonomi negara maju makin menguat, dan pendapatan negara maju juga semakin banyak. Namun, bagi negara berkembang dan miskin, pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran karena besarnya populasi dan minimnya infrastruktur di negara berkembang dan miskin hanya menyisakan pilihan untuk berutang kepada negara maju," katanya.
Utang yang besar membuat kemampuan suatu negara untuk membayar semakin turun, sehingga terancam bangkrut. "Maka seharusnya, utang memperhatikan kemampuan membayar kembali, tidak malah menjebak negara berkembang dan miskin tunduk pada mekanisme utang," kata Adhi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!