Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dampak Lingkungan ‘Data Center’ Tak Bisa Diremehkan, Lalu Apa Solusinya?

📅 Selasa, 04 Apr 2023, 13:44 WIB | Oleh: Tim Penulis

Namun, sejauh ini tidak ada data centre manapun yang menggunakan energi sebesar itu. Pusat data berskala besar hyperscale saja hanya memakan energi sekitar 20-50 MWH saban tahun. Angka itu jauh dari batasan 70 GWH versi pemerintah.

Batasan yang kelewat tinggi tersebut membuat kita tidak bisa mengetahui berapa sebenarnya pemakaian energi data centre di Indonesia. Padahal, kita membutuhkan transparansi dalam pemakaian energi data centre.

Pemerintah dapat membuat mekanisme khusus supaya para pengelola dapat melaporkan konsumsi energinya secara berkala-paling tidak setiap tahun. Laporan semestinya juga bisa diakses publik.

Pemerintah juga perlu mewajibkan pengelolaan pusat data yang efisien dan hemat energi.

Di Singapura, misalnya, data centre wajib memenuhi rasio Power Usage Effectiveness (PUE) hingga 1,3. Rasio PUE 1 menjadi yang patokan efisiensi energi yang ideal.

Kewajiban tersebut akhirnya memaksa operator untuk mendesain dan mengelola data centre seefisien mungkin. Langkah ini dapat dimulai dengan pemakaian peralatan hemat energi sehingga konsumsi listrik maupun biaya operasional bisa ditekan.

Pemerintah juga harus mendukung pengelola data centre memakai energi dari sumber-sumber yang ramah lingkungan. Saat ini, baru beberapa data centre di Indonesia yang memperoleh Sertifikat Energi Terbarukan (REC). Sertifikat yang diterbitkan PT PLN ini menjadi bukti suatu pelanggan menggunakan energi terbarukan untuk fasilitas mereka.

Pemakaian sertifikat ini dapat diperluas ke berbagai pelanggan. Jika perlu, pemerintah dapat memberikan insentif pajak bagi pengelola data centre yang menggunakan energi terbarukan.

Di Eropa, sejumlah grup pengelola data centre seperti Amazon dan Google bahkan berkomitmen menggunakan energi terbarukan untuk memenuhi 70% kebutuhan listrik mereka pada 2025 dan 100% pada 2030.

Mengubah Perilaku Digital juga Penting

Meski penting, upaya memastikan pengelolaan data centre yang hemat energi baru menyelesaikan separuh masalah. Emisi gas rumah kaca dari aktivitas ini bukanlah satu-satunya sumber perkara.

Kita juga harus memperhitungkan dampak lingkungan yang lebih sulit diukur dari penggunaan data digital.

Misalnya, masalah lingkungan yang terjadi akibat peningkatan konsumerisme karena big data dan algoritma yang semakin mampu membanjiri pengguna internet dengan iklan yang 'tepat'. Algoritma data juga semakin efisien untuk membuat masyarakat kian bergantung pada media sosial ataupun platform e-commerce (lokapasar).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Open Base Lanud Hang Nadim

8 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Open Base Lanud Hang Nadim
Ekonomi
Pemasangan jaring untuk pro...
Nasional
Kapal Qi Jiguang dan Kunlun...

Karapan sapi di Bangkalan Madura

12 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Karapan sapi di Bangkalan M...
Rona
Pameran seni rupa karya sen...
Megapolitan
Pendaftaran Kartu Layanan G...
Nasional
RUU Perampasan Aset Jangan ...
Megapolitan
Pemprov DKI hentikan sistem...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.