Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dampak Lingkungan ‘Data Center’ Tak Bisa Diremehkan, Lalu Apa Solusinya?

📅 Selasa, 04 Apr 2023, 13:44 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dampak Lingkungan ‘Data Center’ Tak Bisa Diremehkan, Lalu Apa Solusinya? Doc: Oregonlive/Google
Ket. Uap naik di atas menara pendingin di pusat data The Dalles di Oregon. Gumpalan uap air ini menciptakan kabut saat senja.

Tiola Allain, Center for Indonesian Policy Studies

Ada 215 juta pengguna internet di Indonesia pada 2022. Mereka rata-rata menghabiskan waktu delapan jam dalam sehari di ruang online.

Aktivitas ini mencakup kegiatan minim data seperti akses aplikasi online dan mengirim email, hingga pemakaian yang intens seperti streaming video ataupun pengolahan big data.

Data dan internet memang memudahkan kehidupan kita, tapi dampak lingkungannya kerap diabaikan. Penyimpanan dan pemrosesan informasi digital sebenarnya tak tersimpan di 'awan' atau cloud, melainkan di fasilitas raksasa bernama pusat data (data centre) yang rakus energi dan air.

Kehidupan manusia yang kian bergantung pada data membuat kebutuhan pusat data terus naik.

Ada sekitar 94 pusat data di Indonesia dengan kapasitas listrik hingga 727,1 megawatt (MW). Sebagian di antaranya milik raksasa teknologi seperti Alibaba dari Cina, ataupun Google Cloud dari Amerika Serikat. Ada juga fasilitas punya perusahaan pelat merah, PT Telkom Indonesia.

Sebagai ilustrasi, pusat data 'kecil' berkapasitas 1 MW saja membutuhkan energi setara dengan listrik untuk seribu rumah. Fasilitas ini juga membutuhkan 26 juta liter air setahun-untuk mendinginkan mesin-mesin yang mudah panas.

Di Indonesia, pesatnya aktivitas digital bisa mendongkrak pertumbuhan pusat data hingga 20% setiap tahun. Untuk mengantisipasi angka tersebut, pemerintah merencanakan pembangunan empat Pusat Data Nasional masing-masing berkapasitas 40 MW pada 2026.

Jakarta pun menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan pusat data tercepat di Asia Pasifik. Posisinya kedua tercepat setelah Melbourne, Australia.

Pertumbuhan pusat data di Indonesia juga dapat menjadi lebih laju dikarenakan Singapura, sebagai pasar data center terbesar di Asia Tenggara, saat ini membatasi pembangunan pusat baru karena pertimbangan kelestarian bumi.

Mengingat pesatnya tren ini, penting bagi Indonesia untuk menerapkan praktik pusat data berkelanjutan untuk mengurangi dampak lingkungannya. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Operasional yang Transparan dan Efisien

Pemerintah dan industri harus merumuskan rencana operasional data center yang ramah lingkungan, berikut mekanisme pelaporannya. Ini dibutuhkan agar maraknya pusat data tak membawa mudarat lanjutan bagi lingkungan.

Saat ini, pemerintah hanya mewajibkan pelaporan pemakaian energi bagi pengguna yang menghabiskan listrik di atas 70 gigawatt jam (GWH) setiap tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

4 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.