Kebaya: Warisan Banyak Budaya di Asia Tenggara yang Jadi Simbol Pemberontakan Sekaligus Pemberdayaan Perempuan
📅 Minggu, 12 Mar 2023, 20:18 WIB | Oleh: Tim RedaksiPerancang busana Singapura bernama Oniatta Effendi sedang menciptakan kembali kebaya untuk generasi berikutnya. Dia bermain dengan siluet untuk menciptakan potongan kebaya yang praktis dan serbaguna.
"Menurut saya kebaya adalah sesuatu yang terus berkembang," kata Effendi.
Tidak hanya desainnya yang longgar dan panjang, dia juga mendapat inspirasi dari elemen tradisional seperti kemben, namun membaliknya sehingga sebagian berada di luar kebaya seperti korset yang dipamerkan.
"Ketika saya memakai kebaya, rasanya memberdayakan. Anda seperti menjadi orang lain."
Sebaiknya Anda baca juga:
Effendi tetap merangkul warisan Indonesianya, bahkan dia memasukkan kebaya putih ala Jawa dalam koleksi bertajuk "Nostalgia".
"Kebaya itu punya kenangan bagi saya," kata Effendi. "Nenek saya berdiri di depan rumah di kampungnya dan memberi saya salam tempel untuk Hari Raya atau melihat foto-foto dia menyuapi saudara perempuan saya di bawah pohon."
Kebaya juga baru-baru ini dirancang dalam bentuk NFT oleh perusahaan metaverse 8sian yang berbasis di Kuala Lumpur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada peringatan Hari Kartini (21 April) di Indonesia yang merayakan pemberdayaan perempuan, banyak perempuan mengenakan kebaya, bahkan pada kompetisi berselancar yang digelar untuk memperingati hari itu.
Apresiasi baru terhadap warisan budaya ini juga terlihat dari peluncuran Kebaya Societe, sebuah akun Instagram yang merinci sejarah kebaya di Asia tenggara.
Sufiyanto Amat Sopingi, seprang penjahit dan konsultan bisnis fesyen Afiq Juana telah mengumpulkan para penggemar kebaya dengan mengunggah foto-foto vintage kebaya sejak tahun 1900-an. Dia juga membagikan wawasannya mengenai kebaya.
"Ada yang lebih tertarik pada keglamoran 1960-an di era sinema Melayu, ada juga yang lebih tertarik pada tekstil," kata Sopingi.
"Tapi unggahan kami yang paling populer adalah ketika kami membagikan foto perempuan dari berbagai wilayah di Asia tenggara, dari Malaysia hingga Indonesia, berpakaian sama. Orang-orang menyukai aspek komunal."
Sopingi, yang mulai mengoleksi busana vintage saat tinggal di Eropa, segera memperluas koleksinya dengan menyertakan kebaya begitu kembali ke Singapura.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!