Kebaya: Warisan Banyak Budaya di Asia Tenggara yang Jadi Simbol Pemberontakan Sekaligus Pemberdayaan Perempuan
📅 Minggu, 12 Mar 2023, 20:18 WIB | Oleh: Tim RedaksiSelain cantik dan praktis, kebaya juga cocok untuk iklim tropis. Setelah bertahun-tahun, bentuknya pun semakin beragam.
Model kebaya awal mulanya panjang, dengan blus bagian depan terbuka selutut yang dikaitkan dengan bros dan berlengan panjang.
Saat ini, versi yang paling terkenal dari kebaya salah satunya adalah kebaya Kartini, yang populer di kalangan bangsawan Jawa; kebaya Kutubaru yang memiliki potongan bahan di lapisan dalamnya agar terlihat seperti kemben; dan kebaya Nyonya, yang terbuat dari sutra atau voile berwarna-warni dengan hiasan bordir.
Ketika kebaya diadopsi oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya, di mana orang-orang biasa meniru bangsawan Jawa dan kota-kota pelabuhan kosmopolitan ingin merangkul mode baru, para pengrajin dari setiap daerah membubuhkan motif cap khas mereka di atasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelancong yang berkunjung ke Indonesia bisa melihat bagaimana perempuan Bali menutup kebaya mereka dengan selempang warna-warni yang kontras. Sedangkan di Jawa, banyak perempuan mengenakan kebaya putih dengan renda gaya Eropa yang dipopulerkan oleh Belanda pada masa kolonial.
Di Kepulauan Riau, para perempuan memanjangkan keliman kebaya hingga selutut. Lalu di Brunei, perempuan mengenakan kebaya yang terbuat dari kain songket yang ditenun dengan benang emas.
Sementara itu di Malaka dan Penang, Malaysia, beberapa perempuan peranakan (keturunan pedagang Tiongkok abad ke-14 yang menikahi perempuan lokal Asia Tenggara) menyulam kebaya mereka dengan Phoenix dan Peony yang merepresentasikan warisan budaya Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kebaya juga menjadi simbol kebanggaan dan pembangkangan. Selama Perang Dunia ke-2, perempuan Jawa yang ditempatkan di kamp pengasingan Jepang menolak mengenakan apa pun selain kebaya sebagai bentuk pemberontakan dan solidaritas nasional.
Kebaya juga menjadi pakaian nasional Indonesia pada 1945 dan diadopsi oleh maskapai Garuda Indonesia, Malaysia Airlines, dan Singapore Airlines, sebagai seragam untuk awak kabin perempuannya.
Singapore Airlines bahkan sampai mengundang couturier Prancis Pierre Balmain untuk mendesain sarung kebaya pada 1974.
Saat ini, bagi sebagian orang di Asia tenggara, kebaya digunakan untuk acara-acara khusus, meskipun ada juga yang menganggapnya sebagai pakaian sehari-hari.
Kebaya yang dibuat dengan kain mewah dapat dikenakan pada pernikahan peranakan di Penang, sedangkan versi katun yang lebih adem tampak digunakan para perempuan yang mengendarai motor di jalanan Bali ketika berkegiatan sehari-hari.
"Cerita dari kebaya selalu berubah untuk menyesuaikan berbagai macam situasi sosial, budaya dan politik," kata Yoong.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!