Kebaya: Warisan Banyak Budaya di Asia Tenggara yang Jadi Simbol Pemberontakan Sekaligus Pemberdayaan Perempuan
📅 Minggu, 12 Mar 2023, 20:18 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: AFP/ADEK BERRY
Di bawah lampu sorot studionya, desainer kelahiran Indonesia, Stacy Stube merapikan renda cokelat di atas mejanya. Dengan hati-hati, dia menyematkan pola itu ke kain, bertekad untuk tidak merobeknya. Lalu dengan menggunakan kapur, dia dengan teliti menggaris di sekeliling pola itu.
Pekerjaan itu cukup membebaninya, mengingat dia bukan hanya membuat sebuah gaun, namun membuat pakaian yang pernah menjadi simbol pemberontakan dan tetap diberkahi sejarah.
Kebaya adalah pakaian yang telah dibuat oleh para perempuan Indonesia, termasuk nenek buyut Stube yang juga penjahit. Kebaya juga ditemukan di negara-negara tetangga seperti Brunei, Malaysia, Singapura, dan di selatan Thailand.
Kebaya sangat dicintai oleh kelima negara ini, sehingga mereka bersama-sama menominasikan kebaya ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada Maret 2023.
"Kebaya melampaui batas negara dan etnis," kata Cedric Tan, mantan presiden Persatuan Peranakan Baba Nyonya Kuala Lumpur dan Selangor, sebuah perkumpulan untuk orang-orang peranakan yang terlibat dalam pencalonan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kebaya diyakini berasal dari Timur Tengah. Qaba, jaket yang konon berasal dari Turki, adalah "jubah kehormatan" dalam bahasa Persia.
"Bangsawan Jawa serta perempuan kelas atas ditemukan mengenakan pakaian serupa dengan bagian depan terbuka ketika Portugis tiba di Jawa pada 1512," ungkap profesor sejarah fesyen Amerika Serikat, Linda Welters dan Abby Lillethun dalam buku Fashion History: A Global View.
Kebaya akhirnya mengambil namanya dari kata Portugis caba atau cabaya yang berarti tunik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jackie Yoong, kurator senior untuk fesyen dan tekstil di Museum Peradaban Asia dan Museum Peranakan di Singapura mengatakan bahwa ada alasan lain mengapa kebaya jelas berakar di Timur Tengah.
"Saat Anda mengangkat lengan kebaya, di bawah lengan ada tambalan segitiga seperti jubah dari Timur Tengah, sedangkan jaket lain seperti gaya Ming [dari Tiongkok] berpotongan datar," tutur dia.
Kebaya menjadi istilah yang digunakan untuk jubah atau blus laki-laki dan perempuan, tetapi sejak abad ke-19 dan seterusnya, kebaya di Asia tenggara merepresentasikan paduan blus wanita dengan sarung batik.
Gaya ini menjadi populer di kalangan perempuan Belanda pada era Hindia-Belanda, dan juga diadopsi oleh para perempuan di Asia tenggara yang menganut Islam dan ingin berpakaian lebih sopan.
Praktis dan Motif
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!