Berpotensi Jadi Pandemi, Indonesia Mewaspadai Virus Marburg
📅 Rabu, 22 Feb 2023, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Pemerintah akan mengawasi pelaku perjalanan dari Afrika, khususnya Guyana Ekuatorial, menyusul temuan baru kasus virus Marburg. Selain Guyana Ekuatorial, negara tetangganya, Kamerun, juga ditemukan dua kasus suspek.
Dikutip dari British Broadcasting Corporation (BBC), Selasa (21/2), seorang epidemiolog mengatakan kasus virus Marburg semakin intensif, membuka potensi yang makin meluas menjadi pandemi, sementara sistem kesehatan Indonesia disebut "rawan".
"Kalau ada riwayat perjalanan, untuk diminta melapor ke fasilitas kesehatan, ketika masuk negara kita," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.
Jika pelaku perjalanan mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, muncul diare, akan dilakukan uji pengurutan genom pada pelaku perjalanan tersebut. Sejauh ini, lanjut Nadia, Indonesia belum memiliki riwayat keberadaan kasus virus Marburg. "Indonesia tidak pernah, dan negara-negara tetangga juga tidak pernah," katanya.
Nadia mengeklaim penularan virus Marburg tidak secepat Covid-19. "Penularannya tidak mudah. Ini lewat cairan tubuh. Jadi air liur, jadi makanya tidak terlalu khawatir lewat saluran pernapasan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Intensitas temuan kasus virus Marburg sejauh ini mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), kasus penyakit virus Marburg terjadi tiga tahun terakhir berturut-turut sejak 2017.
Semakin Intensif
Sementara itu, ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, mengatakan WHO sudah menyatakan virus Marbrug berpotensi menjadi pandemi sejak 2018. Sebab, wabahnya semakin intensif dalam tiga tahun terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kekerapannya drastis, yang membuat ini harus disikapi serius. Karena ada sesuatu yang berpotensi berbahaya, entah itu karakter virusnya yang bermutasi atau ada faktor vektor atau hewan pembawa virus ini," kata Dicky.
Selain itu, masa inkubasi virus Marburg bisa mencapai tiga minggu. Artinya, orang yang terinfeksi memiliki waktu yang lebih lama untuk bisa membawa serta virus tersebut ke lokasi lain sampai menimbulkan gejala.
"Besar kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat karena arus mobilitas sangat tinggi," jelas Dicky yang memperingatkan wabah bisa melompat ke benua lain karena sistem transportasi udara yang mudah saat ini. "Sangat besar kemungkinan terjadi di negara yang sistem kesehatannya lemah," tambahnya.
Status keamanan ketahanan kesehatan nasional Indonesia sejauh ini disebut Dicky dalam posisi yang selalu rawan terhadap ancaman wabah. Penyebabnya, surveilans (pengawasan) kesehatan belum didukung dengan sumber daya dan teknologi yang memadai, misalnya dalam pintu masuk dari luar negeri.
Surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit guna bisa mengambil tindakan pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien. Padahal, ujar Dicky, pemerintah saat ini memiliki PeduliLindungi yang bisa dimanfaatkan.
"PeduliLindungi perlu di-maintenance, eskalasinya ditingkatkan, supaya bisa tangkap orang-orang yang begini (membawa virus). Bisa dipantau sama otoritas kesehatan di daerah," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!