Berpotensi Jadi Pandemi, Indonesia Mewaspadai Virus Marburg
📅 Rabu, 22 Feb 2023, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SIa juga tak setuju untuk menutup pintu bagi pelancong dari Guyana Ekuatorial dan Kamerun. "Akan tetapi, pemerintah perlu lebih memperhatikan para pendatang dari Afrika, dari negara terdampak, semacam ada karantina," katanya.
Pendiri Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Diah Satyani Saminarsih, meminta pemerintah tidak lengah terhadap wabah Marburg. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk pengawasan, baik di pintu-pintu masuk Indonesia dan di puskesmas diperlukan.
"Sekarang ini kita dalam keadaan mode preparedness atau kesiapsiagaan. Nah, untuk meningkatkan survailens harus meningkatkan komitmen anggaran," katanya.
WHO melaporkan kasus wabah pertama virus Marburg di Guyana Ekuatorial, bagian barat Afrika Tengah pada 7 Februari. Per 13 Februari 2023, telah dilaporkan satu kasus konfirmasi, 16 kasus suspek, dan sembilan kematian. Gejala yang timbul di antaranya demam, lemas, diare, dan muntah darah.
Sebaiknya Anda baca juga:
WHO telah mengerahkan tenaga kesehatan untuk melacak orang yang berkontak, mengisolasi, dan memberikan perawatan kepada mereka yang menunjukkan gejala tersebut.
"Marburg sangat menular. Berkat tindakan cepat dan tegas oleh otoritas Guyana Ekuatorial dalam mengonfirmasi penyakit tersebut, tanggap darurat dapat dilakukan dengan cepat sehingga kami bisa menyelamatkan nyawa, dan menghentikan virus sesegera mungkin," kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!