LinkedIn, Raksasa Jejaring Bisnis yang Kini Berusia 20 Tahun
📅 Jumat, 10 Feb 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKondisi pandemi membawa kemujuran untuk LinkedIn, dengan interaksi di platform meningkat 43% dan aktivitas berbagi konten naik 30%. LinkedIn menuai untung dari bergesernya cara orang berjejaring, dan ini berkaitan dengan temunan dari sejumlah studi bahwa koneksi profesional kita yang paling lemah - misalnya sekadar kolega dari seorang kolega - justru yang paling berperan memberikan kita informasi penting yang pada akhirnya mengarahkan kita ke lowongan atau pekerjaan-pekerjaan impian.
Pada masa ketika hambatan ruang dan waktu menjadi kurang relevan dan panggilan Zoom mudah ditemui di mana-mana, ini jadi momen yang tepat untuk berhubungan kembali dengan para kenalan ini. Apalagi, dengan banyaknya orang yang mempertanyakan situasi kerjanya masing-masing, LinkedIn menjadi tempat ideal untuk melihat unggahan orang lain dan berkomunikasi dengan mereka.
Ini berarti LinkedIn memegang peranan sentral dalam fenomena great resignation - merujuk pada fenomena meroketnya jumlah pekerja yang mengundurkan diri setelah pandemi COVID-19 pecah. Layaknya sebagian besar pengguna LinkedIn, gerakan ini pun didominasi oleh kelompok milenial. Unggahan soal pindah atau keluar dari pekerjaan menarik banyak likes dan komentar, menginspirasi orang untuk melakukan hal yang sama. Fakta bahwa sangat banyak orang yang terhubung lewat LinkedIn menggandakan efek tersebut dan menjadikannya sebagai katalis maupun solusi utama bagi pemberi kerja.
Berjumpa dengan 'Work-fluencer"
Sebaiknya Anda baca juga:
Peran LinkedIn sebagai magnet isu-isu terkait pekerjaan menentukan bagaimana platform tersebut berkembang. Misalnya, kini muncul kategori influencer media sosial baru: "work-fluencer".
Perusahaan semakin menemukan bahwa profil dan unggahan karyawan mereka dapat mengekspresikan merek (brand) lebih baik daripada akun resmi perusahaan. Ini memungkinkan mereka mengembangkan jaringan bisnis jauh lebih cepat dan alami.
Ketika dilakukan dengan baik, unggahan dari karyawan umumnya jauh lebih baik daripada humas korporasi. Ketimbang sekadar mengkurasi artikel soal pencapaian dan kesuksesan profesional, orang-orang semakin terbuka dan jujur mengenai kehidupan kerja mereka sehari-hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih dari 13 juta pengguna LinkedIn telah mengubah profil mereka menjadi "mode kreator", demi mendapatkan paparan yang lebih besar terhadap unggahan mereka. Banyak yang menggunakan tagar #careertiktok untuk mengunggah hal-hal seperti gaji ataupun vlog yang menceritakan kejadian terkait pekerjaan mereka - dan unggahan dengan tagar ini telah ditonton hingga 1.5 miliar kali.
"Obrolan kantor" yang kini berpindah ke ruang daring merepresentasikan perubahan soal seberapa banyak yang diungkapkan orang-orang di internet terkait pekerjaan mereka. Pekerja kini mengangkat isu-isu tabu soal transparansi gaji, diskriminasi, dan praktik buruk menjatuhkan kolega di lingkup profesional. Sejumlah profesi seperti pengacara, pengusaha, dan ahli humas pun memanfaatkan unggahan mereka sebagai bisnis pemasaran konten dan usaha sampingan lain yang menguntungkan.
Perubahan ini memungkinkan LinkedIn menikmati kepercayaan dan pertumbuhan komunitas yang bisa membuat media sosial lain iri, 20 tahun semenjak platform ini didirikan. Tentu saja ini bukan tanpa tantangan -- akun palsu, misalnya, masih jadi permasalahan. Dan tak dapat dihindarkan, LinkedIn juga menarik banyak spam, yang mungkin saja merupakan salah satu alasan mengapa platform ini tak mendapatkan interaksi harian sebanyak media sosial lainnya.
Di sisi lain, LinkedIn diuntungkan oleh tidak adanya kompetitor langsung yang setingkat dengannya. Yang paling dekat mungkin grup Facebook atau Reddit. Tapi, fokus LinkedIn yang murni pada korporasi akan selalu jadi nilai plus dibanding keduanya.
Di saat platform tradisional seperti Facebook dan Twitter mengalami kesulitan, LinkedIn memiliki peluang emas untuk terus sukses sebagai platform besar yang fokus ke bidang tertentu.![]()
Theo Tzanidis, Senior Lecturer in Digital Marketing, University of the West of Scotland
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!