Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Masih Hadapi Gizi Buruk

📅 Minggu, 05 Feb 2023, 19:40 WIB | Oleh:

Ahli gizi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Iin Fatmawati, melihat tindakan ibu balita itu karena kurang pengetahuan mengenai konsumsi makanan dan minuman yang tepat untuk anak - selain faktor kemiskinan.

Oleh karena itu pemerintah perlu mengedukasi masyarakat mengenai makanan dan minuman yang baik untuk anak untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada anak, kata Iin.

"Intinya, pemerintah dan tenaga kesehatan memiliki peran untuk mencerdaskan masyarakat dan meningkatkan pengetahuan mereka," kata Iin.

Senada dengan Iin. pakar kesehatan dari Grifith University, Australia, Dicky Budiman, masalah gizi pada anak, termasuk stunting atau malnutrisi, selalu terkait dengan masalah literasi. Menurut Dicky, literasi bukan hanya masalah promosi kesehatan, tapi satu pesan kesehatan tentang gizinya yang sesuai untuk komunitas tertentu dalam hal ini ibu di berbagai lokasi yang berbeda.

"Nah ini yang masih menjadi isu, karena komunikasi risiko yang dilakukan dalam konteks malnutrisi ini belum memadai, jadi digeneralisasi," kata Dicky.

"Padahal dalam komunikasi risiko bukan satu untuk semua, semua untuk satu, tapi harus meng-address spesifik isu, specific community," imbuh dia.

Sehingga, menurut Dicky, pola komunikasi semacam itu yang bisa mencegah kasus-kasus seperti ibu yang memberi kopi susu saset kepada bayinya karena dalam pandangan dia kopi tersebut mengandung susu.

"Terus dalam konteks di daerah situ adanya kopi susu, dalam konteks ini kita tidak bisa menggeneralisasi, harus dilihat permasalahan apakah susah akses dengan susu, atau memang si ibu ini memang miskin, atau dia sebetulnya mampu tapi pengetahuan dia salah sumber informasi," kata Dicky.

Bahkan, Iin menegaskan tidak membenarkan sama sekali tindakan ibu yang memberi asupan kopi susu pada anak balitanya karena sangat berisiko memperberat kerja jantung karena kandungan kafein.

"Seharusnya anak bayi bisa diberikan makanan yang lain yang memiliki kandungan gizi yang baik," kata Iin.

Menurut Iin, program penanganan stunting di Indonesia, yang dikomandoi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, masih perlu diperbaiki karena beberapa terhambat oleh kondisi demografis wilayah di Indonesia yang sulit diakses serta penerimaan masyarakat yang masih kurang.

"Perlu dilakukan adalah, tetap fokus pada intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik sendiri adalah berfokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, dimulai dari sebelum kehamilan hingga anak berusia 2 tahun," kata Iin.

Intervensi pada saat sebelum kehamilan hingga pada saat proses kehamilan sangat berperan dalam kehidupan anak setelah dilahirkan, tambah Iin.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.