Indonesia Masih Hadapi Gizi Buruk
📅 Minggu, 05 Feb 2023, 19:40 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP/Chaideer Mahyuddin
JAKARTA - Kehebohan tayangan video TikTok baru-baru ini yang memperlihatkan seorang ibu memberi minum kopi susu kepada bayinya menarik perhatian Presiden Joko Widodo untuk menyoroti tingginya angka kurang gizi di kalangan anak-anak di Indonesia.
Meskipun Indonesia telah mengurangi angka stunting dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 21,6 persen tahun lalu, masih banyak yang harus dilakukan untuk mencapai target 14 persen pada akhir masa jabatan lima tahun keduanya pada tahun 2024, kata Presiden Joko Widodo.
Itu berarti lebih dari 5 juta anak Indonesia mengalami stunting, kondisi kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek pada anak di bawah 5 tahun.
"Target yang saya sampaikan 14 persen di tahun 2024 ini harus kita bisa capai. Saya yakin dengan kekuatan kita bersama, semuanya bergerak, angka itu bukan angka yang sulit untuk dicapai asal semuanya bekerja bersama-sama," kata Presiden Joko Widodo saat membuka Rapat Kerja Nasional Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana dan Penurunan Stunting, akhir bulan lalu di Jakarta.
Presiden Joko Widodo menyampaikan stunting masih menjadi masalah besar yang harus segera diselesaikan. Apalagi stunting dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) sebuah negara, bukan hanya berdampak kepada kondisi fisik melainkan juga kesehatan hingga kemampuan berpikir anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dampak stunting ini bukan hanya urusan tinggi badan, tetapi yang paling berbahaya adalah nanti rendah kemampuan anak untuk belajar, keterbelakangan mental, dan yang ketiga munculnya penyakit-penyakit kronis yang gampang masuk ke tubuh anak," ujar Presiden RI.
Presiden Joko Widodo juga mengkritik Kementerian Kesehatan karena membagikan biskuit yang diperkaya sebagai pengganti makanan seperti telur, ikan, dan daging untuk mendukung kebutuhan gizi balita.
Pada acara yang sama, Presiden Joko Widodo mengomentari video yang diunggah akun TikTok menampikan seorang ibu memberi kopi susu saset kepada bayinya yang berusia 7 bulan, ditayangkan lebih dari 2,6 juta kali dan di-retweet 3.444 kali, sehingga memunculkan beragam reaksi publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya lihat kemarin yang ramai bayi baru 7 bulan diberi kopi susu saset. Kopi susu saset oleh ibunya. Karena yang ada di bayangan di sini adalah susu. Gitu loh. Anaknya mau diberi susu. Hati-hati mengenai ini," kata Presiden Joko Widodo.
Alasan si ibu - dalam video berdurasi kurang dari 2 menit dengan latar suasana kemiskinan itu - bahwa dirinya tidak mampu membeli susu formula untuk bayinya karena harganya mahal, dan kebetulan di dalam kopi saset ada susunya juga, makanya dia meminumkan kopi susunya kepada anak balitanya.
Anggota DPR Netty Prasetiyani melihat kejadian tersebut sangat memprihatinkan dan harus menjadi tamparan bagi kita semua, terutama pemerintah yang setiap tahunnya dibekali dengan anggaran kesehatan.
"Kejadian ini semakin menunjukkan bahwa edukasi soal pangan sehat masih sangat jauh dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Padahal pemerintah memiliki program kesehatan di aspek promotif dengan anggaran yang besar," kata Netty kepada BenarNews pada Jumat (2/3) lalu.
Netty menyerukan pemerintah harus "bekerja keras" menjangkau masyarakat dengan edukasi yang dilakukan berulang-ulang. Edukasi itu juga harus tepat sasaran dan merata, terutama di pelosok-pelosok pedesaan yang sulit dijangkau.
Kurang Literasi Gizi
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!