Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lubang Mbah Soero, Saksi Bisu Penderitaan 'Orang Rantai'

📅 Sabtu, 14 Jan 2023, 06:10 WIB | Oleh:

Akibat membangkang, ia ditangkap dan disekap bersama 8 orang seperjuangan di kantor Kawedanan Randublatung, Blora. Sebelum sampai Sawahlunto, mereka dibuang ke Digul, Papua. Setelah beberapa lama disana, bersama dengan para tahanan lainnya diangkut dengan menggunakan kapal laut dan kereta api ke Sawahlunto. Di Sawahlunto mereka dijadikan buruh paksa pertambangan batu bara sebelum menjadi mandor.

Mbah Suro yang meninggal pada 1930 memiliki lima anak dengan 13 cucu. Istrinya adalah seorang dukun beranak. Mbah Suro meninggal sebelum tahun 1930 dan ia dimakamkan di pemakaman Orang Rantai yakni di Tanjung Sari, Kota Sawahlunto.

Dari sejarahnya Orang Rantai yang bekerja di dalam Lubang Mbah Soero jumlahnya mencapai ratusan orang. Selain harus bekerja siang malam, mereka diperlakukan dengan tidak manusiawi serta mendapatkan upah yang tidak layak.

Untuk mengenalkan sejarah kelam pertambangan bawah tanah itu situs Lubang Mbah Soero pada 2007, dibuka untuk pariwisata oleh pemerintah daerah setelah melalui beberapa kali pemugaran. Saluran air dan udara ditambahkan agar pengunjung dapat memasukinya dengan nyaman.

Pemerintah membangun diorama kehidupan manusia rantai yang penuh derita. Leher dan tangan mereka diikat dengan rantai, dan dipaksa menambang batu bara, dan mendorong lori, ditambah dengan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Digambarkan juga makanan yang mereka konsumsi jauh dari kata layak meski tugasnya cukup menguras tenaga.

Bukti kekejaman kolonial ini adalah ditemukannya kerangka manusia yang terkubur dalam lubang tambang Mbah Suro. Diyakini masih ada ratusan pekerja tambang yang mati terkubur di lubang tambang yang masih bisa dilihat hingga kini.

Lubang Mbah Soero menjadi tempat terkuburnya Orang Rantai yang meninggal. Para tahanan Belanda tersebut hanya punya satu pilihan yaitu bekerja jika ingin tetap hidup. Karena tidak kuat menanggung beban dan derita akhirnya mereka banyak yang mati.

Lubang tambang Mbah Suro memiliki panjang 1,5 kilometer, namun hanya 180 meter saja yang dibuka untuk wisatawan. Lubang tambang ini aslinya lembab, basah, sempit, dan pengap. Bisa dibayangkan perjuangan orang rantai yang harus bekerja di tempat itu dalam kondisi saling berdesakan.

Jauh berada dari permukaan tanah, saat malam hari suhu udara berubah menjadi sangat dingin. Padahal Orang Rantai hanya dibekali dengan pakaian seadanya. Kedinginan, kelaparan, dan sakit menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mereka.

Kini untuk keperluan wisata, Lubang Mbah Soero sudah direvitalisasi memiliki fasilitas yang aman dan nyaman, berupa penerangan, pegangan tangan, ventilasi udara, dan tangga. Di sini wisatawan dalam melihat langsung "emas hitam" yang bernilai tinggi.

Setelah sekian lama berfungsi Lubang Mbah Soero berhenti ditutup karena adanya rembesan dari Sungai Lunto. Agar rembesan tidak menyebar lebih luas ditutup dengan plat pintu besi. Setelah tidak berfungsi untuk penambangan dialihfungsikan sebagai pemukiman pekerja tambang.

Sebagai bekas tambang yang memiliki nilai sejarah Museum Tambang Batu Bara Ombilin dengan Lubang Mbah Soero di Sawahlunro ditetapkan menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO pada tanggal 6 Juli 2019.

Di museum tersebut juga ada beberapa bangunan lain salah satunya adalah Museum Goedang Ransoem. Menempati sebuah kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara yang didirikan pada tahun 1918. Dapur umum fungsinya sebagai tempat memasak makanan bagi pekerja tambang yang berjumlah ribuan, termasuk pekerja dan pasien Rumah Sakit Ombilin.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Produsen Senjata Ukraina An...

Ajax Resmi Pinjam Marc-Andre ter Stegen dari Barcelona

48 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
Ajax Resmi Pinjam Marc-Andr...

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.