Lubang Mbah Soero, Saksi Bisu Penderitaan 'Orang Rantai'
📅 Sabtu, 14 Jan 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Kota Sawahlunto dikenal sebagai kota pertambangan pertama di tanah air. Pertambangan batu bara di kota ini meninggalkan saksi pilu perjuangan Orang Rantai bertahan hidup dengan bekerja paksa di pertambangan bawah tanah yang dikenal dengan Lubang Mbah Soero.
Sejak Ir Willem Hendrik de Greve menemukan batu bara pada 1867 di Sawahlunto di Sumatera Barat, kota itu menjadi tempat penting di mata Belanda. Pada laporan penelitian yang dipaparkan di Batavia pada 1870, de Greve menyebutkan di sekitar aliran Sungai Batang Ombilin, terkandung 200 juta ton batu bara.
Mendengap paparan de Greve, pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi batu bara di Sawahlunto. Selanjutnya Sawahlunto juga dijadikan sebagai kota pada 1 Desember 1888. Tanggal ini sekaligus menjadi hari jadi Kota Sawahlunto.
Mulai 1892, kota tersebut mulai memproduksi batu bara dalam skala besar untuk kebutuhan bahan bakar berbagai mesin uap pabrik dan kapal Belanda. Dalam sekejap tempat ini berdiri pemukiman pekerja tambang, gedung-gedung perkantoran, dan jaringan rel kereta api.
Pada 1889 Belanda membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan pengangkutan batu bara. Jalur kereta api tersebut mencapai Kota Sawahlunto pada 1894. Dengan beroperasinya kereta api, produksi batu bara mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan ribu ton per tahun. Pada 1930, produksi batu bara memberi keuntungan sebesar 4,6 juta gulden per tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski kota kecil hanya memiliki luas 778 hektare saja, namun penduduk Sawahlunto kala itu telah mencapai 43.576 jiwa dengan lebih. Dari jumlah itu sebanyak 700 jiwa merupakan orang Belanda. Kini luas kota kecil sarat peninggalan sejarah ini mencapai 273,45 kilometer persegi dengan penduduk 66.962 jiwa.
Pertambangan batu bara Ombilin sangat menguntungkan bagi Belanda. Apalagi Belanda mempekerjakan orang secara paksa yang disebut manusia rante atau kettingganger dalam bahasa Belanda. Mereka adalah narapidana kriminal dan politik dari seluruh Nusantara, menjadikan Sawahlunto kota multi etnis.
Tambang batu bara Ombilin merupakan jenis pertambangan bawah tanah (underground mining), dengan kualitas kalori batu bara sangat baik. Sampai saat ini pintu gerbang untuk menuju pertambangan bawah tanah masih bisa disaksikan dengan nama Lubang Mbah Soero yang dikukuhkan oleh Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur, pada 2007.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lubang Mbah Soero yang kini berada di kawasan Museum Tambang Batu Bara Ombilin dengan alamat Lubaini, berada di Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah. Diresmikan pada 14 Juni 2016 tempat ini saksi bisu bagi laranya para Orang Rantai menjalankan kerja paksa.
Orang Samin
Dalam sejarahnya Mbah Surono sendiri adalah seorang mandor orang rantai. Hasil Penelitian tentang Situs Mbah Soero oleh Dr Lindayanti M Hum yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Pemerintah Kota Sawahlunto, di Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero pada tanggal 11 November 2020, menyatakan bahwa Mbah Soero merupakan orang yang memiliki ilmu kebatinan.
Ia ditugaskan Belanda untuk mengawasi penambangan di Lubang Soegar sebelum diubah menjadi Lubang Mbah Soero. Dalam kesehariannya ia dikenal sangat rajin bekerja, berperilaku baik dan taat beribadah. Di tempat itu Mbah Soero dianggap representasi Samin Soerosentiko yang mengenalkan konsep konsep sedulur sikep di Kawedanan Randublatung, Blora.
Seperti konsep awal kata sedulur bagi masyarakat di Sawahlunto tidak sekedar mengacu pada pertalian darah, tetapi satu cara pandang memaknai pihak lain yang diposisikan sama dan sederajat, dan saling terikat.
Elsa Putri E Syafril dalam laporan berjudul Diaspora Sedulur Sikep di Sawahlunto yang ditampilkan pada Seminar Kebudayaan di Indonesia, Masyarakat, Sejarah, dan Kebudayaan Sawahlunto, di Yogyakarta pada 25 September 2013, menyebutkan masyarakat penganut Samin di Blora percaya Samin Soerosentiko dibuang ke Sawahlunto pada Desember 1907.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!