Menjaga Laut, Meredam Modernitas, Tantangan Bagi Suku Bajau, Suku yang Jadi Inspirasi James Cameron untuk Film'Avatar: The Way of Water'
📅 Senin, 09 Jan 2023, 20:42 WIB | Oleh: Ilham SudrajatHubungan Suku Bajau dengan orang Bugis atau Buton, di masa lalu tidak sepenuhnya setara, karena sebenarnya orang-orang Bajau ini hanya diberi izin untuk berlabuh. Karena itulah, mereka tetap tinggal di atas laut, dengan pemukiman yang terus berkembang menjadi perkampungan besar. Karena kemampuan orang Bajau dalam menangkap ikan cukup unggul, posisi mereka diperhitungkan.
Saat ini, perubahan juga terjadi dalam cara orang Bajau menerapkan keahlian menangkap ikan. Penggunaan alat tangkap mengubah kearifan orang Bajau. Mereka menangkap ikan dalam jumlah secukupnya saja di masa lalu. Namun, kini bahkan ada beberapa warga Bajau yang mulai membuka keramba ikan. Mereka tidak lagi mengumpulkan ikan, tetapi sudah membudidayakannya, terutama jenis-jenis ikan untuk keperluan ekspor.
Ada sejumlah ciri yang menurut Tasrifin kemungkinan akan mengalami perubahan.
"Prediksi saya, kemungkinan yang pertama ciri tinggal di atas air itu lambat laun akan berkurang," papar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ciri lain adalah etnisitas, karena terjadi proses kawin mawin dengan etnis lain, yang juga dikenal sebagai amalgamasi. Perkawinan ini didorong kemampuan Suku Bajau menguasai bahasa di luar sukunya dengan cukup cepat. Selain itu, suku Bajau juga tidak sepenuhnya suku asli Indonesia, karena mereka bisa menjadi orang Filipina, Malaysia, atau Indonesia.
Namun, Indonesia harus merasa memiliki Suku Bajau karena dia adalah salah satu penguat ciri negara maritim atau negara kepulauan.
"Sebenarnya, di luar dari Suku Buton, Mandar, Bugis, Makassar dan Madura, Bajau itu penanda identitas suku bangsa maritim di dunia. Nah, kalau kita kehilangan Bajau, Indonesia tidak punya lagi ciri khas sebuah negara maritim yang besar," kata Tasrifin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Negara bisa melakukan intervensi, terlebih dari Indonesia memiliki Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. UU ini memberi ruang kepada negara agar ciri Bajau sebagai masyarakat maritim, pemilik sah kebudayaan maritim, diinventarisasi dan dikuatkan.
Ciri suku Bajau yang tidak boleh hilang, kata Tasrifin, adalah interaksinya dengan laut. Karena itu, upaya negara dalam mendukung eksistensi suku Bajau, harus dikaitkan dengan kelautan. Jika ciri kelautan ini tidak hilang, Suku Bajau akan mampu mempertahankan kehidupan mereka. Mereka akan tetap tinggal di rumah kayu di atas laut, menyelam dan pergi melaut, dan menerapkan tradisi yang sudah bertahan ratusan tahun itu, tanpa takut dihempas serangan modernisasi.
Di Avatar: The Way of Water, klan Na'vi harus melawan manusia dan teknologi modern dalam perang yang nyata. Di lautan Indonesia, Suku Bajau harus berperang dengan modernisasi itu sendiri. VoA/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!