Teknologi 'Skin VR' Berikan Pengalaman Sensasi Sentuhan di Dunia Maya
📅 Rabu, 28 Des 2022, 00:00 WIB | Oleh: Ilham SudrajatPerangkat ini memiliki beberapa fitur keselamatan bawaan untuk melindungi pengguna dari sengatan listrik, dan suhu perangkat dipertahankan dalam kisaran yang relatif rendah antara 27 hingga 35,5°Celsius untuk menghindari ketidaknyamanan termal selama pengoperasian terus-menerus.
Beragam Aplikasi
Sejauh ini WeTac telah berhasil diintegrasikan ke dalam skenario VR dan AR, dan disinkronkan dengan tangan robotik melalui komunikasi BLE. Dengan ukuran mini, format yang dapat dikenakan dan nirkabel serta strategi umpan balik yang berorientasi sensitivitas, WeTac membuat umpan balik taktil di tangan jauh lebih mudah dan ramah pengguna.
Pengguna dapat merasakan objek virtual dalam berbagai skenario, seperti menggenggam bola tenis dalam pelatihan olahraga, menyentuh kaktus, atau merasakan mouse berjalan di tangan dalam aktivitas sosial, game virtual, dan lain-lain.
"Kami percaya bahwa ini adalah alat yang ampuh untuk memberikan sentuhan virtual, dan menginspirasi pengembangan metaverse, antarmuka manusia-mesin (HMI), dan bidang lainnya," pungkas Dr Yu. ils/I-1
Menggunakan Teknologi Pengenalan Wajah dalam VR
Wajah kita dapat membuka kunci ponsel cerdas, menyediakan akses ke gedung yang aman, dan mempercepat pemeriksaan paspor di bandara, memverifikasi identitas kita untuk berbagai tujuan.
Menyikapi hal itu, sejumlah tim peneliti internasional dari Australia, New Zealand, dan India, kini telah membawa teknologi pengenalan wajah ke tingkat berikutnya yaitu dengan menggunakan ekspresi seseorang untuk memanipulasi objek dalam pengaturan virtual reality (VR) tanpa menggunakan pengontrol genggam atau panel sentuh.
Temuan penelitian ini telah dipublikasikan di International Journal of Human-Computer Studies pada edisi pertengahan Februari lalu.
Dalam studi pertama dunia yang dipimpin oleh peneliti dan pakar interaksi komputer manusia dari University of Queensland, Dr Arindam Dey, menggunakan teknik pemrosesan saraf untuk menangkap ekspresi senyum, cemberut, dan rahang terkatup dari seseorang dan menggunakan setiap ekspresi untuk memicu tindakan tertentu dalam lingkungan VR.
"Motivasi utama dari pekerjaan ini adalah membuat metaverse lebih mudah diakses dan inklusif," kata Dr Dey. "Pada saat yang sama, ekspresi wajah juga dapat digunakan untuk memungkinkan interaksi seperti berciuman dan meniupkan udara dalam lingkungan virtual dengan cara yang lebih realistis dari sekarang," imbuh dia.
Salah satu peneliti yang terlibat dalam eksperimen tersebut, Profesor Mark Billinghurst dari University of South Australia, mengatakan bahwa sistem tersebut telah dirancang untuk mengenali berbagai ekspresi wajah melalui headset EEG.
"Senyum digunakan untuk memicu perintah 'bergerak'; mengerutkan kening untuk perintah 'berhenti' dan mengepal untuk perintah 'aksi', sebagai pengganti pengontrol genggam yang melakukan tindakan ini," kata Profesor Billinghurst.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!