Jangan Lengah dengan Laju Pertumbuhan Triwulan III-2022
📅 Rabu, 09 Nov 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS – Litbang KJ/and/ones
» Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang kuatnya permintaan domestik, serta kinerja investasi dan ekspor.
» Belanja pemerintah harus dipacu untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di triwulan IV-2022.
JAKARTA - Semua pihak diingatkan agar tidak lengah dan tetap waspada dengan ancaman ketidakpastian global, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2022 melaju 5,72 persen.
Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Edy Priyono, di Jakarta, Selasa (8/11), mengatakan dampak ketidakpastian global seperti resesi ekonomi, inflasi, dan pengetatan kebijakan moneter masih membayangi Indonesia dan dapat memberikan dampak negatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita harus bersyukur, ekonomi kita di kuartal tiga melaju kencang. Tapi, capaian itu jangan membuat lengah. Kewaspadaan terhadap potensi ancaman resesi masih harus dijaga," kata Edy di Kompleks Istana Kepresidenan seperti dikutip dari Antara.
KSP, papar Edy, akan memastikan pemerintah bersama otoritas terkait di sektor keuangan terus bekerja keras dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Kerja keras itu dilakukan dengan melaksanakan bauran kebijakan untuk mengendalikan inflasi, meningkatkan investasi, dan mendorong pertumbuhan ekspor.
"Pemerintah juga menganggarkan beragam insentif dan bansos untuk membantu industri dan masyarakat yang terdampak," ujar Edy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badan Pusat Statistik (BPS), pada Senin (7/11), mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2022 tumbuh pesat hingga 5,72 persen, atau naik dari kuartal II yang sebesar 5,45 persen. Pencapaian tersebut melebihi pertumbuhan ekonomi negara-negara, lain seperti Tiongkok sebesar 3,9 persen, Amerika Serikat (AS) 1,8 persen, Jerman 1,2 persen, Uni Eropa 2,1 persen, dan Korea Selatan 3,1 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu ditopang kuatnya permintaan domestik, serta tingginya kinerja investasi dan ekspor. Adapun konsumsi rumah tangga tumbuh 5,39 persen, investasi 4,9 persen, dan ekspor tumbuh 21,64 persen.
Lebih Peka
Pengamat Ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B. Suhartoko, yang diminta pendapatnya berharap agar pemerintah khususnya kementerian/lembaga agar lebih peka terhadap ancaman krisis. Dia juga menyoroti masih rendahnya realisasi belanja pemerintah pada tahun ini, padahal kalau dioptimalkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi terlebih di triwulan keempat.
Sektor penggerak ekonomi yang diharapkan saat ini adalah pengeluaran pemerintah. Sebab itu, pengelolaan fiskal harus efektif menggerakkan perekonomian dengan realokasi anggaran ke pengeluaran yang menggerakkan konsumsi dan investasi.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2022 bakal melambat, maka yang bisa menopangnya ialah belanja pemerintah agar pertumbuhan tidak terkoreksi sangat dalam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!