Denisovan, Manusia yang Punah 200 Ribu Tahun yang Lalu
Selasa, 13 Sep 2022, 00:00 WIB | Oleh: Haryo BronoPada 2022, para peneliti telah mengidentifikasi delapan fosil kecil dan sangat terfragmentasi sebagai Denisovan berdasarkan DNA. Menurut sebuah studi 2021 di jurnalNature Ecology & Evolutionsemuanya fosil ditemukan di Gua Denisovan.
Hasil temuan berupa tiga geraham, serpihan tulang dari tulang lengan atau kaki yang panjang. Tiga irisan tulang, dan sepotong tulang jari. Terakhir adalah satu-satunya fosil yang menghasilkan DNA yang cukup untuk pengurutan seluruh genom.
Para ilmuwan juga telah menemukan fosil Denisovan lain yang menyimpan protein yang para peneliti tahu adalah Denisovan berdasarkan penelitian DNA sebelumnya pada garis keturunan yang punah. Fosil-fosil ini termasuk tulang rahang dari situs suci di Tiongkok dan geraham dari sebuah gua di Laos.
Sebuah studi independen pada 2021 yang dipublikasikan di jurnalNature Ecology & Evolutionmenduga bahwa dua garis keturunan manusia yang punah dengan tubuh miniHomo floresiensisyang sering dikenal sebagai "Hobbit", dan Homo luzonensisyang lebih kecil, mungkin adalah Denisovan.
Kedua kelompok ini bertahan hingga sekitar 50.000 hingga 60.000 tahun yang lalu dan mungkin pernah hidup di pulau-pulau Asia tenggara pada waktu yang sama dengan manusia modern. Hasil studi selama ini, manusia modern di kepulauan Asia tenggara ternyata memiliki tingkat DNA Denisovan yang relatif tinggi. hay/I-1
Pernah Sezaman dengan Neanderthal dan "Homo Sapiens"
Sebuah studi yang dipublikasikan diNaturepada 2010 mengungkapkan bahwa Denisovan kawin silang dengan nenek moyang manusia modern atauHomo sapiens. DNA-nya membentuk sekitar 4 persen hingga 6 persen dari genom penduduk Papua New Guinea dan Bougainville dan beberapa masyarakat Melanesia, sebuah subregion Oseania yang meliputi Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, dan Fiji.
Sebaliknya, studi di JurnalNatureedisi 2013 menemukan hanya sekitar 0,2 persen DNA orang Asia daratan dan penduduk asli Amerika yang berasal dari Denisovan. DNA Denisovan mungkin telah memberi sejumlah manfaat bagi manusia modern.
Penelitian 2014 menemukan bahwa mutasi genetik dari Denisovan dapat membantu orang Tibet dan Sherpa hidup hidup di dataran tinggi. Sebuah studi pada 2016 di jurnalSciencejuga menemukan bahwa DNA Denisovan mungkin telah mempengaruhi sistem kekebalan manusia modern, serta kadar lemak dan gula darah.
Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2013 menemukan Neanderthal juga kawin silang dengan manusia modern. Diperkirakan genom semua non-Afrika mengandung 1,5 persen hingga 2 persen DNA Neanderthal. Selain itu, sebuah studi 2018 diNaturemengungkapkan Denisovan dan Neanderthal juga saling kawin.
Studi 2018 itu memeriksa fragmen tulang sepanjang 2,5 sentimeter yang ditemukan pada 2012 di Gua Denisovan. Pecahan ini berasal dari tulang panjang, seperti tulang kering atau tulang paha. Ketebalan bagian luar tulang menunjukkan bahwa itu milik seorang wanita yang setidaknya berusia 13 tahun ketika dia meninggal. Penanggalan radiokarbon fosil ini berumur 50.000 tahun.
DNA dari fosil ini peneliti menemukan hibridisasi antara Denisovan-Neanderthal yang terjadi 300 hingga 600 generasi sebelum masa hidupnya. Secara keseluruhan, penemuan tunggal ini membantu mengungkapkan beberapa contoh interaksi antara Neanderthal dan Denisovan.
Pada 2022, para ilmuwan telah menggali sisa-sisa Denisovan dari situs-situs di Siberia, Tiongkok dan Laos. Data fosil ini cocok dengan bukti genetik Denisovans yang ditemukan pada manusia modern yang tinggal di Melanesia.
Dari sisi tampilan penelitian yang diterbitkan pada jurnalScience Advances(2019) menggambarkan tulang jari Denisovan dari seorang perempuan remaja berusia sekitar 13,5 tahun. Dari tulang itu menunjukkan bahwa dia memiliki kulit gelap, rambut cokelat, dan mata coklat.
Denisovan diperkirakan seperti Neanderthal, memiliki dahi rendah, rahang yang menonjol, dan hampir tidak memiliki dagu. Selain itu memiliki lengkung gigi yang jauh lebih panjang dibandingkan Neanderthal dan manusia modern, dan bagian atas tengkorak mereka mungkin terasa lebih lebar. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!