Stagflasi Bayangi Ekonomi RI ke Depan
📅 Selasa, 28 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Worldbank - KJ/ONES/ANDES
» Bank Sentral akan menyesuaikan suku bunga, bila ada tandatanda kenaikan inflasi inti.
» Ekspor batu bara harus dikenakan pajak untuk menambah pendapatan negara.
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengingatkan risiko stagflasi global masih akan membayangi ekonomi Indonesia ke depan, meskipun beberapa lembaga pemeringkat internasional sangat yakin dengan prospek ekonomi nasional.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Senin (27/6), mengatakan pihaknya melihat situasi global masih sangat rentan sekali sehingga rentan pula pada asumsi makro.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bank Sentral, kata Destry, sangat fokus pada inflasi yang tahun ini kemungkinan akan melewati target yang ditetapkan 2-4 persen. Meskipun diperkirakan akan kembali ke target 2-4 persen pada 2023. Fokus terutama pada gejolak harga dan dampaknya pada ekspektasi inflasi.
"Kami akan gunakan seluruh kebijakan yang kami miliki, termasuk penyesuaian suku bunga apabila terdapat tanda-tanda kenaikan inflasi inti," kata Destry.
Saat ini, inflasi inti masih berada dalam kisaran 3,6 persen sehingga otoritas moneter itu akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, fokus bank sentral juga pada nilai tukar rupiah yang saat ini sedang mengalami tekanan cukup tinggi. Kendati terdepresiasi, dia memperkirakan tekanan kurs akan mereda pada 2023 karena didukung kondisi fundamental dalam negeri, defisit transaksi berjalan yang lebih relatif kecil tahun 2022 dan 2023, cadangan devisa yang masih kuat, serta prospek perekonomian yang tetap baik.
Menanggapi ancaman stagflasi, pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan pemerintah harus membangun kekuatan dari dalam agar lebih berdaya saing.
"Memang benar, kita tidak akan pernah benar-benar steril dari risiko di luar. Saat ini semua mengalami inflasi, Amerika, Turki, Eropa, dan bahkan Tiongkok," kata Wibisono.
Meskipun harga komoditas seperti CPO dan batu bara sedang naik, namun sejauh mana itu bisa mengompensasi tekanan dari luar. Mengingat selama ini yang menikmati keuntungannya hanya para pengusaha.
"Apalagi batu bara, ekspornya tidak kena pajak. Saya kira dalam kondisi krisis seperti sekarang, demi menambah pemasukan negara pemerintah harus berani mengenakan pajak pada ekspor batu bara, meskipun banyak tambang yang dimiliki orang berpengaruh. Selain itu, kita harus memperkuat daya saing dengan meningkatkan agroindustri dan manufaktur," katanya.
Pertumbuhan Berkualitas
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!